"Rata-rata ICP September 2026 yang melonjak naik menjadi US$112,81/barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan. Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional," papar Laode melalui keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026).
Dia menjelaskan eskalasi militer membuat jalan buntu pada jalur diplomasi di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, mengancam jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Hal ini berdampak pada jalur distribusi minyak dunia tersebut sempat mencatatkan penurunan volume ekspor hingga 28% bila dibandingkan dengan periode Juli.
Krisis pasokan makin memburuk akibat rentetan serangan ke fasilitas energi kawasan, salah satunya memicu penutupan sementara Pipa Timur-Barat Arab Saudi berkapasitas 7 juta barel per hari (bph) menggunakan pesawat nirawak sebagai tindakan antisipasi.
Tekanan pada pasokan global semakin diperparah oleh keputusan OPEC+ yang menunda penambahan kuota produksi, disusul serangan berkelanjutan terhadap kilang serta terminal ekspor minyak di Rusia dan wilayah Laut Merah.
Kondisi geopolitik ini mendorong kenaikan serentak pada seluruh minyak mentah acuan dunia pada September 2026 dibandingkan dengan bulan sebelumnya, di antaranya sebagai berikut:
- Brent (ICE) naik US13,94menjadiUS$102,02/barel.
- WTI (Nymex) naik US13,24menjadiUS$95,69/barel.
- Dated Brent naik US25,93menjadiUS$116,77/barel.
- Basket OPEC naik US24,29menjadiUS$110,73/barel.
Meskipun diperkirakan mulai mengalami pelandaian pada Oktober 2026 ke kisaran US$98—US$103/barel, angka ICP diprediksi tetap berada di level yang relatif tinggi.
Untuk itu, pemerintah berjanji akan terus memperketat pengawasan pergerakan harga minyak guna merumuskan langkah strategis.
"Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui tengah mewaspadai serangan di Timur Tengah yang dilakukan Houthi ke Arab Saudi dapat memengaruhi distribusi minyak dari negara tersebut.
Bahlil menilai terdapat risiko serangan yang dilakukan Houthi ke Arab Saudi dapat memperparah permasalahan distribusi minyak mentah dari Timur Tengah, yang sebelumnya sudah tersendat gegara perang antara Iran–AS.
“Beberapa bulan terakhir saya melakukan komunikasi dengan menteri-menteri energi di hampir semua dunia. Ramalan kita bahwa geopolitik ketegangan antara Iran, Amerika, Israel, dan sekarang masuk Houthi juga masuk ke Arab Saudi, ini akan makin memperparah arus logistik dan ketahanan energi dunia,” kata Bahlil dalam Rakernas HIPPI, Senin (12/10/2026).
Bahlil menyatakan sebelumnya sekitar 23% minyak mentah Indonesia dikirim melalui Selat Hormuz, tetapi saat ini besarannya menurun gegara konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Untuk itu, Bahlil menyatakan jika situasi di Arab Saudi semakin memanas maka pasokan minyak mentah Indonesia dari Timur Tengah bisa semakin berkurang.
“Makanya Menteri ESDM enggak bisa tidur panjang-panjang, karena lobi minyak di mana-mana. Lobi minyak di Afrika, untung saja kan orang Afrika itu kulitnya sama dengan saya,” ungkapnya.
Bahlil menambahkan saat ini Kementerian ESDM aktif mencari stok minyak mentah dari berbagai negara, termasuk dari negara di Afrika.
“Jadi pada saat saya lobi dengan mereka, saya bilang, ‘kita ini saudara,’ gitu kan. Coba kalau yang gagah-gagah yang putih-putih lobi sama Afrika, belum bicara saja dibilang, ‘Ah, kau beda sama kita,” ujar Bahlil.
(smr/wdh)





























