Bandara tersebut telah ditutup sejak serangan pada Sabtu pekan lalu yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Serangan itu menjadi yang paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade. Pada Minggu, serangan lainnya menewaskan satu orang dan melukai belasan orang.
Serangkaian serangan tersebut menjadi salah satu gangguan paling signifikan terhadap penerbangan di Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini menambah tekanan pada industri penerbangan yang telah menghadapi konflik di berbagai wilayah Timur Tengah serta kenaikan harga bahan bakar pesawat yang menggerus keuntungan.
Serangan itu juga memicu kekhawatiran bahwa penerbangan sipil semakin berisiko menjadi sasaran dalam konflik bersenjata.
“Tingkat serangan intens dan berkelanjutan terhadap penerbangan sipil seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Mark Zee, pendiri OPSGROUP, organisasi berbasis keanggotaan yang memberikan saran keselamatan penerbangan.
“Saya kira situasi ini mengharuskan kita meninjau kembali cara memandang risiko yang ada saat ini dan bertindak dengan sangat hati-hati,” ujarnya.
Pelacak lalu lintas udara Flightradar24 menunjukkan bahwa pesawat-pesawat menghindari Riyadh pada Senin. Meski demikian, sejumlah pesawat masih melintasi wilayah udara Arab Saudi dan mendarat di Jeddah, pusat penerbangan utama di pesisir barat negara tersebut.
Perusahaan analisis penerbangan Cirium melaporkan bahwa tingkat pembatalan penerbangan di seluruh bandara Arab Saudi mencapai 46,4%.
(del)





























