Logo Bloomberg Technoz

Dradjad menerangkan, ketika daya beli masyarakat tergolong baik namun ketersediaan komoditas lokal seperti cabai maupun pasokan produk elektronik impor terbatas, kondisi ketidakseimbangan itulah yang serta-merta mendorong kenaikan inflasi.

“Kuncinya, pengendalian inflasi dapat dilakukan dengan mendorong ketercukupan supply. Ketika daya beli masyarakat bagus tetapi pasokan komoditas, seperti cabai atau produk elektronik impor kurang, hal tersebut yang mendorong terjadinya kenaikan inflasi,” ujarnya. 

Untuk mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional ke depan, Dradjad menilai sektor ekspor bersih (net export) juga perlu terus didorong secara optimal.

“Selain itu, untuk menjaga pertumbuhan ekonomi ke depan, sektor net export (ekspor bersih) perlu terus digenjot,” tambahnya. 

Selain itu, guna memastikan seluruh kebijakan berbasis data yang akurat, pihak Kemenko Perekonomian berencana memperkuat sinergi dan perbaikan sistem pencatatan data ekonomi bersama kementerian serta lembaga terkait.

“Rencananya, saya bersama Ibu Kepala BPS [Amalia Adininggar Widyasanti] akan berkoordinasi ke kementerian/lembaga terkait untuk berbagi data dan memperbaiki sistem pencatatan agar seluruh aktivitas ekonomi dapat tertangkap sempurna oleh BPS,” tambahnya.

Sebelumnya, Kemenko Perekonomian menilai kondisi perekonomian nasional masih tergolong tangguh dengan tingkat inflasi yang tetap terkendali di level 3,28%, atau masih berada dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 2,5±1%. 

Laju inflasi inti juga tercatat melandai ke angka 2,84% secara tahunan (year-on-year), yang menandakan ekspektasi inflasi masyarakat tetap terjangkar dan stabilitas harga terjaga di tengah fluktuasi global.

Sementara itu, inflasi harga yang diatur pemerintah (Administered Prices) mereda hingga 3,25% (yoy) seiring normalisasi mobilitas pasca-libur sekolah dan terbatasnya dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi. 

Tekanan inflasi terbesar justru datang dari kelompok gejolak harga pangan (Volatile Food) yang mencapai 5,03% (yoy), dipicu oleh penurunan produksi hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemerintah terus mengarahkan koordinasi lintas sektor untuk memastikan kelancaran distribusi serta keterjangkauan harga pangan bagi seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, capaian indikator makro saat ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi domestik berada dalam posisi yang kokoh.

"Pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Terjadinya inflasi, kembali ekspansinya sektor manufaktur, dan tetap tumbuhnya ekspor menunjukkan bahwa fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian,” tegas Airlangga dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (2/10/2026).

Ia menambahkan bahwa fokus kebijakan pemerintah ke depan adalah memperkuat sinergi untuk menjaga daya beli masyarakat, mempercepat arus investasi dan aktivitas industri, serta meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk Indonesia di pasar global.

(smr/ell)

No more pages