“Makanya Menteri ESDM nggak bisa tidur panjang-panjang, karena lobi minyak di mana-mana. Lobi minyak di Afrika, untung saja kan orang Afrika itu kulitnya sama dengan saya,” ungkapnya.
Bahlil menambahkan saat ini Kementerian ESDM aktif mencari stok minyak mentah dari berbagai negara, termasuk dari negara di Afrika.
“Jadi pada saat saya lobi dengan mereka, saya bilang, ‘kita ini saudara,’ gitu kan. Coba kalau yang gagah-gagah yang putih-putih lobi sama Afrika, belum bicara aja dibilang, ‘Ah, kau beda sama kita,” ujar Bahlil.
Adapun, harga minyak bergerak naik di tengah serangan terbaru terhadap bandara utama Arab Saudi dan serangan baru terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz.
Serangkaian serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa eskalasi konflik dapat memperburuk risiko gangguan pasokan.
Harga minyak Brent untuk penyelesaian Desember turun 1,1% menjadi US$103,55/barel pada pukul 13.15 waktu Singapura. Harga minyak WTI untuk pengiriman November turun 1,5% menjadi US$90,50/barel.
Sebelumnya, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh kembali diserang Houthi pada Minggu (11/10/2026), sehari setelah serangan menewaskan 12 orang.
Pada hari yang sama, sebuah drone menyerang kapal tanker di dekat area labuh Sohar, lepas pantai Oman dan di luar Selat Hormuz, menurut UK Maritime Trade Operations
Harga minyak acuan global tersebut telah melonjak lebih dari 70% sepanjang tahun ini seiring dengan berlanjutnya perang AS-Iran tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas.
Sejumlah produsen minyak utama di Timur Tengah telah kembali mengekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz dengan volume mendekati tingkat sebelum konflik.
Namun, lonjakan serangan terhadap kapal tanker dan meningkatnya ketegangan di kawasan itu dapat mengancam kelancaran arus pasokan tersebut.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengakui Indonesia kehilangan sekitar 25% sumber impor minyak mentah, usai konflik antara Iran–Amerika Serikat (AS) pecah di Timur Tengah.
Dia menyatakan kondisi tersebut membuat Indonesia harus memutar otak dalam mencari pasokan minyak mentah di pasar global.
"Sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25% sumber impor, Bapak Ibu sekalian. Nah, apa yang dilakukan sekarang? [Strategi] yang dilakukan sekarang adalah kita melakukan hunting," kata Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (5/10/2026).
Laode mengungkapkan proses impor minyak yang dilakukan Indonesia diubah, tak lagi menunggu penawaran dari pemasok melalui tender.
Dia mengungkapkan PT Pertamina (Persero) mencari negara yang memiliki kelebihan pasokan minyak mentah dan menawarnya untuk dibeli secara langsung.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor minyak mentah yang tercatat dalam kode HS 27090010 (crude petroleum) sepanjang Januari—Agustus 2026 mencapai 11,69 juta metrik ton.
Dari besaran tersebut, Amerika Serikat (AS) sudah tercatat menjadi salah satu negara sumber impor minyak mentah Indonesia.
Indonesia tercatat mengimpor minyak mentah asal AS sebesar 134.430 metrik ton atau senilai US$74,23 juta pada Agustus 2026.
Secara terperinci, Nigeria menjadi negara asal impor dengan volume terbesar dengan total mencapai 2,89 juta metrik ton.
Kemudian Arab Saudi menjadi negara kedua pemasok minyak mentah ke Indonesia dengan volume 2,02 juta metrik ton.
Posisi ketiga terbesar ditempati oleh Angola yang tercatat impor minyak mentah dari negara tersebut sekitar 1,93 juta metrik ton.
(azr/wdh)


























