Logo Bloomberg Technoz

Apa itu El Niño?

El Niño pertama kali diamati pada 1600-an oleh para nelayan Peru yang memperhatikan bahwa perairan Pasifik menjadi lebih hangat dari biasanya menjelang Natal pada tahun-tahun tertentu. Mereka menamai fenomena alam tersebut “El Niño de Navidad”, yang merujuk pada Bayi Yesus.

Selama El Niño, angin pasat yang biasanya bertiup dari timur ke barat dan mendorong air hangat Pasifik menuju Asia mulai melemah atau bahkan berbalik arah. Pemicu perubahan ini belum diketahui secara pasti. Namun, perubahan tersebut menyebabkan air hangat bergerak menuju Benua Amerika dan memanaskan sebagian besar wilayah Pasifik tengah dan timur. Peningkatan suhu air kemudian mengubah kondisi atmosfer di atas laut, menggeser jalur badai dan mengubah pola curah hujan.

Pola Pemanasan El Niño (Bloomberg)

Seberapa sering El Niño terjadi?

El Niño tidak memiliki jadwal kemunculan yang tetap. Fenomena ini biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun, dengan kekuatan dan durasi yang bervariasi. El Niño terakhir terjadi pada 2023–2024.

El Niño merupakan bagian dari siklus iklim Pasifik yang lebih luas, yang dikenal sebagai El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Siklus ini berganti antara El Niño, La Niña sebagai fase yang lebih dingin, dan fase netral di antara keduanya. Saat La Niña terjadi, angin pasat dari timur ke barat menguat, mendorong air hangat lebih jauh ke barat dan menyebabkan suhu Pasifik timur menjadi lebih dingin dari biasanya.

Luas Samudra Pasifik, yang mencakup sekitar sepertiga permukaan Bumi, membuat ENSO memiliki pengaruh besar terhadap cuaca global. Pola iklim serupa juga terdapat di Samudra Atlantik dan Samudra Hindia, tetapi dampaknya tidak seluas ENSO. El Niño dan La Niña biasanya mencapai puncak antara Desember dan Januari, meskipun dampaknya dapat berlangsung selama berbulan-bulan.

Kondisi El Niño dan La Niña muncul secara berkala di Samudra Pasifik. (Bloomberg)

Apa yang dimaksud dengan “Super El Niño”?

El Niño diidentifikasi melalui pemantauan suhu Samudra Pasifik, terutama di wilayah yang dikenal sebagai Niño 3.4. Menurut standar Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut berada setidaknya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata jangka panjang selama lima periode tiga bulanan yang saling tumpang tindih secara berturut-turut. Untuk dikategorikan sebagai El Niño kuat, selisih suhu harus mencapai setidaknya 1,5 derajat Celsius, sedangkan El Niño sangat kuat mensyaratkan selisih minimal 2 derajat Celsius. Pada September, suhu di wilayah Niño 3.4 tercatat 2,1 derajat Celsius di atas normal.

“Super El Niño” bukan istilah resmi yang digunakan oleh lembaga peramalan cuaca seperti NOAA dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Istilah ini semakin populer tahun ini seiring munculnya perkiraan bahwa El Niño yang sangat kuat akan terjadi.

El Niño yang sangat kuat tergolong langka. Sejak 1950, hanya ada sekitar segelintir kejadian serupa, dengan yang terakhir terjadi pada 2015–2016. El Niño yang lebih kuat meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem, tetapi tidak menjamin bahwa peristiwa tersebut akan terjadi.

Persentase peluang kekuatan El Niño dan La Niña (Bloomberg)

Bagaimana El Niño memengaruhi cuaca?

Panas yang dilepaskan secara bertahap dari Samudra Pasifik ke atmosfer selama El Niño kerap mendorong suhu global mencapai rekor baru. Para ilmuwan memperkirakan 2027 akan menjadi salah satu tahun terpanas dalam sejarah pencatatan, bahkan berpotensi melampaui 2024. Menurut NOAA, suhu pada 2024 tercatat 1,5 derajat Celsius di atas rata-rata era praindustri.

Dampak El Niño tidak dirasakan secara seragam di setiap wilayah. Pengaruhnya biasanya muncul lebih dahulu di kawasan tropis sebelum meluas ke Australia, Asia, Benua Amerika, dan Afrika.

Australia, Asia Tenggara, wilayah utara AS, dan Kanada biasanya mengalami suhu yang lebih panas dan kondisi lebih kering sehingga lebih rentan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan. India dapat mengalami gangguan curah hujan selama musim monsun. Sebaliknya, wilayah selatan AS, Cile, Argentina, dan sebagian Afrika Timur kerap mengalami kondisi lebih basah serta peningkatan risiko banjir.

Bagaimana pemanasan Samudra Pasifik yang bersifat siklis dapat memengaruhi cuaca di seluruh dunia (Bloomberg)

Musim badai Atlantik biasanya lebih tenang selama tahun-tahun El Niño karena peningkatan wind shear, yakni perubahan kecepatan atau arah angin secara mendadak, dapat merusak perkembangan badai. Badai yang terbentuk tetap berpotensi menimbulkan kerusakan besar. Namun, frekuensi badai yang lebih rendah dapat mengurangi dampak terhadap masyarakat dan infrastruktur, sekaligus membatasi gangguan terhadap aset minyak dan gas di Teluk Meksiko.

Biasanya terdapat sekitar 14 badai bernama di Atlantik selama Juni hingga November. Badai diberi nama ketika kecepatan anginnya mencapai 63 kilometer per jam. NOAA memperkirakan hanya akan ada tujuh hingga 13 badai bernama kali ini, sebagian karena pengaruh El Niño. Hingga awal Oktober, baru satu badai yang mencapai status hurikan.

Sebaliknya, aktivitas topan di Samudra Pasifik cenderung meningkat selama tahun-tahun El Niño. Perairan yang lebih hangat menyediakan lebih banyak energi bagi badai tropis tersebut. Kondisi ini meningkatkan risiko kerusakan akibat topan di Asia, Hawaii, dan Meksiko. Asia dan Hawaii telah dilanda badai mematikan pada musim ini dengan kerugian ekonomi yang besar.

Mengapa perubahan akibat El Niño penting?

El Niño merupakan salah satu indikator iklim yang paling banyak dipantau di dunia karena memberikan petunjuk mengenai badai, risiko kekeringan, hasil panen, dan permintaan energi beberapa bulan sebelumnya.

Perusahaan penyedia layanan utilitas menggunakan prakiraan ENSO untuk memperkirakan kebutuhan pemanas dan pendingin ruangan. Suhu yang lebih tinggi meningkatkan konsumsi listrik untuk pendingin udara. Kondisi ini dapat membebani jaringan listrik dan memicu pemadaman. Sementara itu, curah hujan yang lebih rendah dapat mengurangi produksi listrik dari bendungan hidroelektrik.

Pedagang komoditas memantau potensi ancaman terhadap tanaman pangan, kegiatan pertambangan, produksi minyak dan gas, serta jalur pelayaran. Kekeringan dapat menurunkan permukaan air di Terusan Panama, yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik. Kondisi tersebut dapat memperlambat lalu lintas kargo melalui salah satu jalur sempit strategis tersibuk di dunia.

El Niño dapat menimbulkan dampak positif maupun negatif. Namun, secara historis, kerugian ekonomi global akibat fenomena ini lebih besar daripada manfaat yang diperoleh sejumlah wilayah. Para ilmuwan dari Dartmouth College meneliti dampak El Niño yang masih terasa selama lima tahun setelah kejadian dan memperkirakan peristiwa pada 1997–1998 menyebabkan kehilangan produk domestik bruto (PDB) global sebesar US$5,7 triliun.

Bagaimana El Niño memengaruhi produksi pangan?

Sejumlah tanaman dapat memperoleh manfaat dari El Niño. Curah hujan yang lebih tinggi di California, misalnya, dapat meningkatkan hasil panen alpukat dan almon. Namun, banyak komoditas pangan utama, termasuk beras, gandum, minyak sawit, kopi, dan gula, diproduksi di wilayah yang berpotensi mengalami kondisi lebih panas dan kering.

Selain memengaruhi daratan, El Niño juga dapat mengganggu perikanan laut. Aliran air hangat Pasifik ke arah timur menahan naiknya air laut yang lebih dingin dan kaya nutrisi ke permukaan. Akibatnya, jumlah fitoplankton yang menjadi makanan ikan berkurang. Sejumlah jenis ikan, seperti ikan teri di lepas pantai Peru, dapat berpindah ke perairan yang lebih dingin dan lebih dalam sehingga lebih sulit ditangkap. Sementara itu, spesies tropis dapat bergerak menuju wilayah yang biasanya terlalu dingin bagi mereka.

Penurunan hasil panen, berkurangnya tangkapan ikan, dan kematian ternak akibat cuaca ekstrem dapat mengancam ketahanan pangan global serta mendorong kenaikan harga.

Apakah perubahan iklim memengaruhi El Niño?

Para ilmuwan masih memperdebatkan bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi frekuensi dan intensitas El Niño. Model-model terdahulu memperkirakan fenomena alam ini mungkin menjadi lebih sering seiring pemanasan planet. Namun, sebagian besar abad ke-21 justru didominasi kondisi La Niña, yang menunjukkan bahwa masih banyak aspek siklus ENSO yang belum dipahami para ilmuwan.

Ada pula kekhawatiran bahwa El Niño akan dinilai terlalu kuat dan La Niña terlalu lemah ketika suhu lautan meningkat. Kedua fenomena tersebut biasanya ditentukan dengan mengukur penyimpangan suhu terhadap rata-rata beberapa dekade sebelumnya.

Meski demikian, semakin banyak ilmuwan yang sepakat bahwa pemanasan global dapat memperparah berbagai dampak El Niño. Suhu yang lebih tinggi dapat memperburuk kekeringan di wilayah yang sudah kering, sementara udara yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air. Akibatnya, hujan deras selama badai dapat menjadi lebih intens.

(bbn)

No more pages