Sunaryanto menyatakan akuisisi hak partisipasi tersebut bakal mempertebal aset PHE di Kalimantan Timur, termasuk membuka peluang sinergi dengan aset Pertamina di Kalimantan Timur yakni PT Badak NGL.
Sunaryanto menambahkan, akuisisi tersebut membuka peluang bagi Pertamina untuk berpartisipasi lebih aktif dalam program pengembangan lapangan dan eksplorasi di kawasan tersebut.
Dia menyatakan bahwa sumber daya yang masih dapat dikembangkan diharapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan produksi PHE dalam jangka menengah dan panjang.
“Kehadiran Pertamina di wilayah kerja ini juga akan semakin memperkuat sinergi pengembangan migas di Kalimantan Timur,” ujar Sunaryanto.
Adapun, Eni sebelumnya memegang 88,26% hak partisipasi di North Ganal, sebesar 82% di Rapak, serta sebesar 95% di East Sepinggan.
Sekadar informasi, Eni turut melepas 10% hak partisipasi di 4 WK lainnya, yakni Muara Bakau, Ganal, West Ganal, dan East Ganal.
Transaksi tersebut mencakup aset produksi hingga pengembangan dan eksplorasi yang dilepas ke PT Medco Energi Internasional Tbk.
Eni sebelumnya memegang 88,3% hak partisipasi di WK Muara Bakau, sebesar 82% di WK Ganal, sebesar 70% di WK West Ganal, dan menjadi pemegak hak partisipasi penuh di WK East Ganal.
"Langkah ini juga memperkuat basis produksi jangka panjang kami dengan aset yang telah berproduksi dan proyek pengembangan gas berskala besar, sekaligus membuka potensi eksplorasi di Cekungan Kutai yang sangat prospektif, berkat keberhasilan eksplorasi terkini maupun berbagai prospek yang menjanjikan di masa depan," kata CEO MedcoEnergi Ronald Gunawan, melalui siaran pers, Senin (12/10/2026).
Sekadar catatan, Searah pengendalian 14 blok migas di Indonesia usai dibentuk oleh Eni dan Petronas pada November 2025. Sebelumnya, Eni memang sempat menyatakan terdapat transaksi penjualan 10% hak partisipasi yang bakal rampung dilakukan tahun ini.
"Penjualan 10% saham dalam portofolio Eni Indonesia kepada pihak ketiga, yang tidak termasuk dalam transaksi Searah, sedang berlangsung dan diperkirakan akan diselesaikan pada 2026," tulis Eni dalam keterangan tertulisnya, medio Mei 2026.
Proyek Kutei North Hub mencakup pengembangan Lapangan Geng North di WK North Ganal dan Lapangan Gehem di WK Rapak.
PoD yang disetujui disebut bakal memberikan investasi sekitar US$17,4 miliar. Perinciannya, biaya investasi, di luar sunk cost, senilai US$11,84miliar, biaya operasi termasuk biaya ASR, PPN, dan PBB sejumlah US$5,64 miliar.
Adapun, untuk total sunk cost WK North Ganal dan WK Rapak ditetapkan seharga US$859 juta.
Potensi pendapatan secara keseluruhan atau gross revenue diperkirakan akan mencapai sekitar US$39,45 miliar atau setara dengan Rp631 triliun.
Dari pendapatan tersebut alokasi bagian pemerintah sebesar US$12,99 miliar atau setara dengan Rp208 triliun atau sekitar 31,5% dari gross revenue.
Sementara itu, bagian kontraktor adalah US$8,12 miliar atau sekitar 19,7% dari gross revenue, serta biaya cost recovery sejumlah US$18,33 miliar atau sekitar 44,4%.
Proyek tersebut mencakup pengeboran 16 sumur produksi di kedalaman 1.700—2.000 meter, yang akan terhubung ke FPSO baru dengan kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari.
Gas yang diproduksi akan dialirkan ke darat melalui pipa guna memasok jaringan pipa domestik serta mendukung produksi LNG di fasilitas Bontang untuk kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Adapun, kondensat akan diproses dan disimpan di fasilitas FPSO lepas pantai sebelum dikirim menggunakan kapal tanker.
(azr/wdh)


























