Logo Bloomberg Technoz

Arah Rupiah Hari Ini, Kala Daya Beli Melemah dan Bencana Membesar

Tim Riset Bloomberg Technoz
12 October 2026 08:01

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah hari ini berpotensi kembali terkonsolidasi usai penguatan tipis pada sesi perdagangan pekan lalu. Mengacu data Bloomberg Senin (12/10/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) mulanya dibuka menguat terbatas 0,02% di posisi Rp17.915/US$. Namun tak lama berselang rupiah offshore itu kembali terpeleset 0,04% ke Rp17.927/US$. 

Penguatan yang sempat terjadi pada harga minyak Brent mulai terpangkas pagi ini. Awalnya, Brent dibuka naik 0,22% ke US$104,94/barel, namun tak lama berbalik arah dan melemah 0,91% ke US$103,95/barel. Indeks dolar AS juga sedikit terpangkas ke 102,2. 

Pergerakan minyak dan dolar AS itu berpotensi memberi sedikit ruang bagi rupiah dan sebagian mata uang kawasan untuk bertahan.


Dari Asia, sebagian mata uang di pasar yang sudah buka menunjukkan penguatan pada 07.30 WIB. Won Korea Selatan menguat paling tajam 0,41%, diikuti oleh yen Jepang, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia yang lebih terbatas. 

Mata uang Asia pada perdagangan Senin (12/10/2026) pagi. (Bloomberg)

Meski begitu, penguatan di pasar valuta Asia belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren pelemahan. Sebab, arah dolar AS masih akan dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), terutama menjelang rilis data inflasi konsumen AS dan pernyataan para pejabat bank sentral pekan ini.