Logo Bloomberg Technoz

Data tersebut memperkuat laporan sebelumnya mengenai stagnasi jumlah penumpang selama periode liburan serta penurunan pendapatan box office di tengah minimnya film-film blockbuster.

Seluruh kondisi ini semakin memperkuat gambaran stagnasi belanja konsumen di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.

Pelemahan pasar properti masih membebani keuangan rumah tangga, sementara tingkat pengangguran terus merangkak naik.

“Kesenjangan antara arus penumpang yang solid dan lemahnya pengeluaran per kapita masih berlanjut,” tulis ekonom Goldman Sachs Group Inc. yang dipimpin Yuting Yang dalam sebuah catatan.

Mereka memperkirakan pendapatan pariwisata domestik per wisatawan masih 4,5% di bawah level sebelum pandemi, “mengindikasikan berlanjutnya penurunan kualitas konsumsi.”

Meski berulang kali berjanji meningkatkan permintaan domestik, pemerintah belum menawarkan langkah-langkah baru berskala besar untuk mendorong belanja pada 2026.

Sementara itu, dampak program subsidi yang telah lama berjalan untuk mendorong pembelian barang-barang rumah tangga mulai memudar.

Investasi juga terus mengalami kontraksi, membuat perekonomian semakin bergantung pada ekspor. Pemerintah menempatkan investasi sebagai fokus utama dalam paket stimulus terbatas yang diumumkan pada akhir bulan lalu.

Otoritas juga mulai menawarkan subsidi kredit pemilikan rumah (KPR) kepada sejumlah rumah tangga sebagai upaya menstabilkan pasar properti.

“Komunikasi kebijakan terbaru menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan masih memprioritaskan industri teknologi tinggi dan investasi—khususnya proyek ‘Enam Jaringan’—dibandingkan konsumsi,” tulis para ekonom Goldman Sachs.

“Karena itu, kami mempertahankan pandangan bahwa setiap tambahan stimulus konsumsi kemungkinan akan memiliki skala yang terbatas.”

(bbn)

No more pages