Dalam pernyataan yang tampaknya menyindir Netanyahu dan sejumlah pemimpin dunia lainnya, termasuk Presiden AS Donald Trump, Ketua Komite Nobel Jørgen Watne Frydnes menyoroti “pergeseran menuju politik kekuasaan dengan mengorbankan kerangka hukum serta penghormatan global terhadap hukum dan keadilan”.
Kepada para wartawan di Oslo, ia mengatakan penghargaan tersebut merupakan “pesan bahwa hukum internasional dan lembaga-lembaganya merupakan landasan bagi dunia yang lebih damai”.
Lahir dari keluarga keturunan Tamil India di Durban, Afrika Selatan, Pillay mendirikan firma hukumnya sendiri pada 1967 dan meraih gelar doktor dari Universitas Harvard pada 1988.
Ia pernah menjabat sebagai hakim di Afrika Selatan dan di Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda. Pillay juga menjabat sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia pada 2008–2014.
Kiprahnya turut memengaruhi perumusan definisi tindakan yang dapat dikategorikan sebagai genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk pemerkosaan dan kekerasan seksual. Berkat kontribusinya, seorang terdakwa di Rwanda menghadapi dakwaan menghasut genosida semata-mata karena menyebarkan propaganda.
“Benang merah menghubungkan kiprah awalnya dalam membela Nelson Mandela dan tokoh-tokoh lain yang menentang apartheid dengan pengabdiannya sebagai hakim dalam sejumlah perkara pengadilan internasional penting pada era kita,” kata Komite Nobel.
Sebagai salah satu penghargaan paling bergengsi dalam diplomasi global, Hadiah Nobel Perdamaian juga kerap memicu kontroversi. Tahun lalu, Trump secara agresif mengupayakan penghargaan tersebut, tetapi pada akhirnya gagal mendapatkannya, meskipun ia telah lama mengincarnya.
Awal tahun ini, peraih Nobel Perdamaian 2025 María Corina Machado menyerahkan medalinya kepada presiden AS tersebut, sebuah langkah yang mengejutkan Norwegia.
BREAKING NEWS The Norwegian Nobel Committee has decided to award the 2026 #NobelPeacePrize to Navanethem “Navi” Pillay for her efforts to promote peace and international law. #NobelPrize https://t.co/97vurspw6z
— The Nobel Prize (@NobelPrize) October 9, 2026
Pillay, yang akan menerima hadiah uang sebesar 12 juta krona Swedia (US$1,2 juta), sebelumnya tidak termasuk kandidat favorit. Menjelang pengumuman pemenang, taruhan di platform Polymarket mengalami perubahan tajam. Yulia Navalnaya, janda mendiang pemimpin oposisi Rusia Alexey Navalny, muncul sebagai kandidat terdepan dalam semalam, disusul ketat oleh Mykola Kuleba, aktivis hak-hak anak asal Ukraina.
Saat pengumuman disampaikan pada Jumat, Komite Nobel Norwegia mengatakan belum berhasil menghubungi Pillay. Menurut Associated Press, Pillay menerima kabar tersebut saat menghadiri Forum Nuremberg, sebuah pertemuan untuk membahas hukum internasional di Nuremberg, Jerman. Ia mendapat sambutan tepuk tangan meriah dari para hadirin yang berdiri.
“Tepuk tangan Anda sangat berarti bagi saya,” katanya kepada para hadirin, seperti dikutip Associated Press. “Anda tahu, seseorang tentu tidak ingin menerima penghargaan, hadiah, atau apa pun kecuali masyarakat sepakat bahwa orang tersebut memang layak mendapatkannya.”
Ia menambahkan, “Namun, sebagai seorang pengacara dan hakim, saya tetap ingin memverifikasi informasi ini.”
(bbn)





























