Logo Bloomberg Technoz

Minat Pasar dan Kebutuhan BI

Penawaran SRBI tenor 6 bulan tercatat naik 61,6% dari Rp8,11 triliun menjadi Rp13,11 triliun. Bahkan, pada tenor 9 bulan, penawarannya melonjak dari Rp4,81 triliun jadi Rp9,64 triliun. Sebaliknya, penawaran tenor 12 bulan meningkat tipis dari Rp51,9 triliun menjadi Rp53,48 triliun, bertambah hanya 4,5%. 

Dari sisi penyerapan, BI memenangkan Rp5,29 triliun di tenor 6 bulan, dibandingkan Rp500 miliar pada lelang sebelumnya. Pada tenor 9 bulan, juga meningkat dari Rp150 miliar jadi Rp5,19 triliun. Adapun penyerapan tenor 12 bulan naik dair Rp14,35 triliun jadi Rp19,51 triliun. 

Walaupun tenor 12 bulan masih menyumbang sekitar 65,1% dari total nominal pemenang, kontribusi tenor 6 dan 9 bulan meningkat signifikan daripada lelang sebelumnya. Kala itu hampir semua nominal pemenang terkonsentrasi di tenor 12 bulan. 

Ketidakpastian arah suku bunga global menjadi pemicu preferensi investor kali ini. Sebab, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) mulai terpangkas lantaran data ekonomi AS yang belum cukup baik untuk mendukung kenaikan suku bunga.

Namun, di sisi lain ketidakpastian geopolitik masih mengintai dengan harga minyak masih bertahan tinggi di US$103/barel, walau angka itu sudah terpangkas dari US$104/barel. 

Setidaknya, lelang hari ini cukup untuk meredakan beban rapor rupiah yang sepanjang pekan ini masih merah, meski dengan pelemahan terbatas 0,04%. Hari ini, rupiah menutup pekan dengan penguatan terbatas 0,08% ke Rp17.883/US$, sejalan dengan gerak mata uang Asia. 

Kenaikan nilai yang dimenangkan memberi sinyal BI belum bisa sepenuhnya melepaskan pemakaian SRBI dalam operasi moneternya dan mendorong dana para investor bergerak menyerbu pasar surat utang negara. Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada keberlanjutan penurunan yield Treasury, juga arah kebijakan The Fed, dan perkembangan harga minyak. 

(dsp/aji)

No more pages