Logo Bloomberg Technoz

El Niño terkuat yang pernah tercatat, yakni pada periode 2015-2016, menyebabkan kenaikan suhu air hingga rekor 2,6°C. 

Fenomena ini mengakibatkan hilangnya potensi produksi ekonomi senilai hampir US$4 triliun selama tiga tahun berikutnya akibat perlambatan pertumbuhan, menurut estimasi tahun 2023 oleh para peneliti di China.

El Niño diidentifikasi melalui pemantauan suhu secara terus-menerus di Samudra Pasifik tropis bagian timur. Ketika rata-rata suhu selama beberapa bulan naik 0,5°C di atas angka normal jangka panjang, para ilmuwan memperkirakan akan terjadi perubahan pola cuaca di seluruh dunia.

Saat Samudra Pasifik melepaskan panas ke atmosfer, wilayah Australia, Asia Tenggara, serta bagian utara AS dan Kanada biasanya mengalami kondisi yang lebih panas dan kering. Risiko banjir meningkat di seluruh wilayah selatan AS, Cili, Argentina, dan Afrika Timur.

Tahun ini, El Niño telah mengacaukan pasar di seluruh dunia. Hujan lebat di Brasil membuat tebu tidak dapat dipanen dan memicu kekhawatiran terhadap panen kopi arabika tahun depan.

Di California, peningkatan curah hujan diperkirakan akan memicu pertumbuhan vegetasi, sehingga perusahaan utilitas memperkirakan risiko kebakaran hutan lebih tinggi pada tahun 2027 dan 2028. Sementara itu, kekeringan akibat El Niño memperparah kebakaran di Indonesia, produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Menurut Saulo, tahun-tahun yang dipengaruhi El Niño cenderung mendorong suhu rata-rata global tahunan ke rekor tertinggi baru, seperti yang terjadi pada tahun 2024. 

Data dari Copernicus Climate Change Service—program pengamatan bumi milik Uni Eropa—menunjukkan adanya peluang sebesar 26% bahwa suhu pada tahun 2026 akan melampaui rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat dua tahun lalu.

(bbn)

No more pages