Fenomena serupa juga dilaporkan dalam sejumlah kejadian yang lebih baru. Di Kebun Binatang San Diego, gajah-gajah disebut membentuk lingkaran untuk melindungi anak-anak mereka ketika gempa berkekuatan 5,2 magnitudo mengguncang wilayah tersebut.
Di negara bagian Washington, hiu dan ikan di akuarium dilaporkan berenang secara tidak biasa menjelang gempa berkekuatan 4,2 magnitudo. Perubahan gerakan hewan laut tersebut memunculkan dugaan bahwa mereka mampu merasakan perubahan lingkungan yang tidak mudah dikenali manusia.
Sementara itu, perilaku seekor penyu laut yang berenang menjauh dalam perjalanan panjang sebelum letusan gunung berapi Tonga pada 2022 juga menarik perhatian. Letusan tersebut memicu tsunami besar, tetapi hubungan antara pergerakan penyu dan aktivitas vulkanik belum membuktikan adanya kemampuan untuk memprediksi bencana.
Apa yang Dirasakan Hewan Sebelum Gempa?
Para ilmuwan sedang mempelajari sejumlah mekanisme yang berpotensi menjelaskan mengapa beberapa hewan menunjukkan perilaku berbeda sebelum atau selama aktivitas seismik.
1. Perubahan Medan Listrik dan Magnet
Tekanan pada batuan di bawah permukaan bumi diduga dapat memengaruhi kondisi elektromagnetik di lingkungan tertentu. Sebagian hewan memiliki kemampuan sensorik yang memungkinkan mereka mendeteksi perubahan medan magnet atau sinyal listrik.
Hiu, misalnya, dikenal memiliki kemampuan mendeteksi medan listrik yang lemah di lingkungan perairan. Sementara itu, penyu laut memanfaatkan informasi medan magnet bumi sebagai salah satu petunjuk navigasi saat bermigrasi.
Meski demikian, belum ada bukti kuat bahwa perubahan elektromagnetik sebelum gempa secara konsisten dapat digunakan hewan untuk memprediksi waktu dan lokasi terjadinya gempa.
2. Getaran Berfrekuensi Rendah
Gempa bumi menghasilkan berbagai jenis gelombang seismik. Sebagian gelombang awal dapat tiba sebelum gelombang yang menimbulkan guncangan lebih kuat, sehingga berpotensi memengaruhi perilaku hewan sebelum manusia menyadari gempa.
Gajah memiliki kemampuan komunikasi melalui suara berfrekuensi rendah yang dapat merambat dalam jarak jauh. Mereka juga mampu merasakan getaran melalui tanah, sehingga perubahan getaran lingkungan berpotensi memengaruhi respons mereka.
Namun, kemampuan merasakan getaran tidak serta-merta berarti hewan dapat mengetahui kapan gempa besar akan terjadi. Respons tersebut juga dapat muncul akibat sumber getaran lain di lingkungan sekitarnya.
3. Perubahan Kimia di Lingkungan
Kemungkinan lain yang sedang diteliti adalah perubahan komposisi kimia udara dan air akibat aktivitas geologi. Tekanan pada batuan berpotensi memengaruhi pelepasan gas atau senyawa tertentu di beberapa kondisi.
Perubahan tersebut mungkin dapat terdeteksi oleh hewan yang memiliki indra penciuman atau sistem sensorik yang sensitif. Di lingkungan perairan, perubahan kimia juga berpotensi memengaruhi perilaku organisme laut.
Akan tetapi, mekanisme ini masih membutuhkan bukti empiris yang lebih kuat untuk memastikan apakah perubahan kimia benar-benar menjadi sinyal yang konsisten sebelum gempa bumi.
Mengapa Setiap Hewan Bisa Bereaksi Berbeda?
Kemampuan sensorik setiap spesies tidak sama. Hiu dan penyu memiliki sistem sensorik yang mendukung navigasi serta deteksi perubahan lingkungan di air, sedangkan gajah dapat merespons suara berfrekuensi rendah dan getaran tanah.
Perbedaan tersebut memungkinkan setiap spesies merespons rangsangan yang berbeda. Perilaku yang terlihat aneh bagi manusia belum tentu berkaitan dengan gempa karena hewan juga dapat bereaksi terhadap perubahan cuaca, ancaman predator, penyakit, suara, atau gangguan habitat.
Karena itu, para peneliti perlu membedakan perilaku yang benar-benar berkaitan dengan aktivitas seismik dari respons normal terhadap perubahan lingkungan sehari-hari.
Apakah Hewan Bisa Menjadi Sistem Peringatan Dini Gempa?
Meskipun sejumlah kisah menunjukkan perubahan perilaku hewan sebelum gempa, para ilmuwan belum menganggapnya sebagai sistem peringatan dini yang dapat diandalkan secara mandiri.
Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya data pengamatan yang terstandar. Banyak laporan dibuat setelah gempa terjadi, sehingga perubahan perilaku hewan berisiko ditafsirkan sebagai pertanda meskipun sebelumnya tidak ada hubungan yang jelas.
Untuk membuktikan kaitan tersebut, peneliti membutuhkan pengamatan jangka panjang terhadap berbagai spesies, disertai pencatatan aktivitas seismik, kondisi cuaca, serta faktor lingkungan lainnya.
Penggunaan kamera, sensor gerak, dan pemantauan lingkungan otomatis juga berpotensi membantu mengumpulkan data secara konsisten. Dengan pendekatan tersebut, peneliti dapat menguji apakah perubahan perilaku hewan terjadi lebih sering sebelum gempa dibandingkan pada kondisi normal.
Penelitian Masih Berlanjut
Hewan pendeteksi gempa merupakan topik penelitian yang menarik karena membuka peluang untuk memahami bagaimana makhluk hidup merespons perubahan lingkungan yang tidak selalu dapat dirasakan manusia.
Namun, kemampuan sensorik yang luar biasa tidak sama dengan kemampuan meramalkan bencana secara akurat. Hingga kini, perilaku hewan belum dapat menggantikan sistem pemantauan seismik dan prosedur peringatan dini yang berbasis data ilmiah.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan apakah perilaku tertentu dapat memberikan informasi tambahan bagi pemantauan gempa. Jika hubungan tersebut dapat dibuktikan secara konsisten, pengamatan terhadap hewan mungkin kelak menjadi salah satu sumber data pendukung dalam upaya memahami aktivitas geologi dan mengurangi risiko bencana.
(seo)































