Lebih lanjut, sebagian besar kelompok barang masih mencatat kontraksi. Seperti Bahan Bakar Kendaraan Bermotor terkontraksi 5,7%, diikuti Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya kontraksi 5,7%. Bahkan, kelompok Sandang terkontraksi paling dalam, sebesar 12,4% secara tahunan, dan merosot 15,2 poin secara bulanan.
Proyeksi September
BI memperkirakan penjualan ritel tumbuh 1,4% yoy pada September, sedikit meningkat dari posisi Agustus. Namun, secara bulanan, IPR diperkirakan turun 2,3%, terutama dipengaruhi penurunan penjualan makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,2%, serta barang budaya dan rekreasi 3%.
Berdasarkan kelompok barang, prospek September diperkirakan menunjukkan pemulihan, tetapi tidak merata. Pertumbuhan tahunan di kelompok makanan, minuman, dan tembakau diprakirakan melambat jadi 1,5% dari 2,6%. Sementara, suku cadang dan aksesoris melambat dari 3,9% menjadi 3,7%.
Sebaliknya, penjualan peralatan informasi dan komunikasi diperkirakan masih terkontraksi 6,8%, tetapi membaik dari kontraksi 10,9% di bulan Agustus.
Adapun, perlengkapan rumah tangga lainnya diperkirakan berbalik tumbuh 1% setelah kontraksi 5,2%, sedangkan barang budaya dan rekreasi meningkat menjadi 1,8% dari minus 0,3%. Sedangkan, barang budaya dan rekreasi meningkat menjadi 1,8% dari minus 0,3%.
Perbaikan paling tajam diperkirakan akan terjadi pada kelompok barnag lainnya, yang tumbuh dari kontraksi 7,8% menjadi positif 7,8%. Begitu juga dengan sandang tumbuh dari minus 12,4% menjadi positif 10,8%.
Keyakinan Konsumen Memudar
Tidak meratanya kinerja pertumbuhan penjualan ritel sejalan dengan data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang turun menjadi 118,1. Indeks Keyakinan Ekonomi Saat Ini (IKE) turun dari 109,4 menjadi 107,5.
IPR September yang diperkirakan BI tumbuh 1,4% secara tahunan bahkan tidak dibarengi dengan proyeksi pertumbuhan secara bulanan yang diprediksi akan terkontraksi 2,3%. Artinya, pertumbuhan tahunan memang masih positif, tetapi aktivitas belanja diperkirakan masih akan melemah dibandingkan Agustus.
Kondisi ini sejalan dengan penurunan IKE, yang menggambarkan ekspektasi konsumen yang membaik belum tentu dibarengi dengan peningkatan belanja aktual jika persepsi terhadap kondisi saat ini melemah.
Apalagi, proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 74,2% menjadi 74,9%, sedangkan porsi pendapatan yang ditabung turun dari 15,8% menjadi 15,4%. Kondisi ini bukan indikasi bahwa konsumsi meningkat, tetapi lebih tepat dibaca sebagai adanya tekanan harga yang membuat porsi pengeluaran jadi lebih besar.
Untuk diketahui, inflasi mulai meninggi pada September menjadi 3,28% yoy dari posisi Agustus 3,19% yoy. Kenaikan inflasi ini sepertinya sudah memengaruhi kemampuan rumah tangga dalam mengatur alokasi pendapatannya.
Harga kebutuhan yang meningkat, membuat konsumen mengeluarkan porsi pendapatan yang lebih besar untuk sekadar mempertahankan tingkat konsumsi yang sama. Akibatnya, ruang menabung maupun membelanjakan uang pada kelompok barang diskresioner menjadi kian terbatas.
(dsp/aji)































