Seliweran Rumor
Kabar mengenai rencana Haji Isam mengakuisisi saham Bayan mulai mencuat pada pertengahan Agustus 2026.
Saat itu, rumor yang beredar di pasar menyebut Haji Isam membidik sekitar 62,2% saham BYAN yang dikuasai Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
Respons pasar berlangsung cepat. Saham BYAN sempat menyentuh auto rejection atas (ARA) dengan kenaikan 20% ke level Rp17.275 per saham pada 18 Agustus.
Namun, manajemen Bayan pada awalnya menyatakan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan tersebut. Dengan demikian, kabar akuisisi ketika itu masih desas-desus yang belum mendapat pangkalnnya.
Gambaran lebih jelas muncul pada September. Mengutip laporan Bloomberg News pada 9 September 2026, Haji Isam mengajukan penawaran tunai sekitar US$3 miliar untuk membeli 62% saham Bayan.
Laporan tersebut, yang mengutip sumber yang mengetahui pembicaraan, menyebut penawaran itu berpotensi mencerminkan diskon besar terhadap harga pasar saham Bayan.
Namun, angka tersebut merupakan bagian dari pembicaraan awal, bukan nilai transaksi yang akhirnya terealisasi.
Dinamika Lobi
Seiring berjalannya negosiasi, transaksi yang disepakati berkembang menjadi pembelian sekitar 30% saham Bayan.
Dalam perjanjian jual beli saham bersyarat yang kemudian diperbarui, jumlah saham yang dialihkan mencapai 10.084.088.370 saham, setara sekitar 30,25% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Pada 28 September, manajemen Bayan menegaskan Low Tuck Kwong tetap menjadi pengendali perusahaan meskipun transaksi dengan Haji Isam berlangsung.
Perubahan tersebut penting karena rumor awal menyebut Haji Isam akan mengambil alih kepemilikan mayoritas.
Realisasi transaksi justru menempatkannya sebagai pemegang saham besar tanpa menggantikan posisi Low sebagai pengendali.
Proses negosiasi juga berlangsung ketika Bayan menghadapi persoalan persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk tiga anak usahanya.
Persoalan tersebut sempat membuat ketidakpastian operasional menjadi perhatian investor sebelum persetujuan revisi RKAB diterima pada September.
Jejaring Isam
Masuknya Haji Isam ke Bayan juga menarik perhatian karena latar belakang bisnis dan hubungannya dengan lingkungan pemerintahan.
Haji Isam membangun bisnis melalui Jhonlin Group, dengan kegiatan yang mencakup pertambangan batu bara, agribisnis, energi, dan logistik. Aktivitas bisnisnya berkembang dari Kalimantan Selatan ke sejumlah sektor strategis.
Laporan Bloomberg News pada September 2026 menyebut Haji Isam sebagai salah satu penyandang dana besar dalam kampanye pemilihan presiden Prabowo Subianto pada 2024.
Hubungan tersebut juga terlihat dalam sejumlah peristiwa publik. Pada Agustus 2025, Prabowo memberikan tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama kepada Haji Isam.
Pada Agustus 2026, Haji Isam juga bertemu dengan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya untuk membahas perkembangan investasi di sektor pertambangan, hilirisasi, agribisnis, energi, dan logistik.
Konteks tersebut relevan karena bisnis pertambangan berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah, termasuk perizinan, kuota produksi, dan hilirisasi.
Gadai Saham
Menjelang penyelesaian pembelian saham BYAN, perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan Haji Isam juga mengikat kredit perbankan dengan menjaminkan saham.
Saham pengendali PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), PT Eshan Agro Sentosa, digadaikan kepada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada 30 September 2026. Haji Isam juga menjaminkan saham pengendali di PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) melalui sejumlah entitas terafiliasi.
Langkah tersebut menjadi perhatian pasar karena berlangsung tidak lama sebelum transaksi Bayan diselesaikan. Namun, informasi yang tersedia belum memastikan bahwa fasilitas kredit tersebut digunakan secara langsung untuk membiayai pembelian saham BYAN.
Direktur Utama JARR Indra Irawan menyatakan penggadaian saham dilakukan melalui prosedur yang wajar dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Perseroan juga menyebut langkah tersebut tidak mengakibatkan perubahan pengendalian atas JARR.
Kesepakatan Akhir
Rangkaian negosiasi akhirnya berujung pada penyelesaian transaksi pada 7 Oktober 2026. Dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan pada 9 Oktober, Bayan menyatakan telah menerima pemberitahuan dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low mengenai penyelesaian perjanjian jual beli saham.
Low Tuck Kwong mengalihkan 10.067.421.703 saham kepada Haji Isam, sedangkan Elaine Low melepas 16.666.667 saham. Secara keseluruhan, Haji Isam kini menguasai sekitar 10,08 miliar saham BYAN atau 30,25% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Transaksi tersebut juga tercermin dalam perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada 7 Oktober, dengan nilai crossing sekitar Rp26,09 triliun pada harga Rp2.588 per saham.
Setelah transaksi, Low Tuck Kwong masih memiliki sekitar 9,95% saham Bayan, sedangkan Elaine Low memegang sekitar 22,05%. Low tetap menjadi pengendali perusahaan.
Dengan demikian, perjalanan yang bermula dari rumor pengambilalihan mayoritas pada Agustus berakhir dengan masuknya Haji Isam sebagai pemegang saham besar Bayan.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada bagaimana perubahan struktur kepemilikan tersebut akan memengaruhi arah bisnis perusahaan tambang batu bara itu.
(fik/naw)


























