“Hal yang paling mengejutkan saya adalah aksi jual saham teknologi masih terkonsentrasi. Lebih dari dua pertiga konstituen S&P 500 justru menguat, sementara saham berkapitalisasi kecil nyaris datar,” kata Chris Murphy, kepala bersama strategi derivatif di Susquehanna International Group. “Kenaikan saham barang konsumsi pokok dan saham bervolatilitas rendah menunjukkan adanya rotasi ke sektor defensif, bukan aksi jual saham secara luas.”
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 5,2%, menekan sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga di tengah kembalinya risiko pasokan energi dan kekhawatiran atas suku bunga yang tinggi.
Kekhawatiran soal pasokan energi juga terus membayangi investor. Harga minyak naik setelah muncul laporan bahwa Gedung Putih meminta Pentagon menyiapkan opsi serangan terhadap Iran yang berpotensi dilaksanakan sebelum pemilu sela. Badai Isaias yang tengah terbentuk di Teluk Meksiko turut menambah kekhawatiran.
Nada hawkish Gubernur Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller juga tidak membantu sentimen pasar. Waller mengatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan diperlukan untuk menekan inflasi. Namun, ia menegaskan para pembuat kebijakan memiliki fleksibilitas mengenai kapan harus bertindak dan tidak harus menaikkan suku bunga secara beruntun di setiap rapat.
Respons pasar terhadap kinerja perusahaan terkait AI lainnya beragam. Hasil awal kuartalan Samsung yang mencetak rekor belum memenuhi ekspektasi investor yang paling optimistis, sementara TSMC membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 51%. Perbedaan kinerja ini muncul ketika investor bersiap menghadapi musim laporan keuangan perusahaan AS, dengan belanja AI dan permintaan terhadap teknologi tersebut diperkirakan tetap menjadi tema utama.
Ahli strategi Deutsche Bank memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan pada kuartal III akan bertahan pada tingkat historis yang tinggi, yakni 34% secara tahunan. Permintaan yang didorong oleh AI diperkirakan turut menopang pertumbuhan laba sekitar 54% pada perusahaan teknologi berkapitalisasi pasar terbesar.
Menurut ahli strategi Citigroup Richard Schlatter dan David Chew, porsi perusahaan AS yang diperkirakan melampaui estimasi laba kuartal III juga lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya. Model mereka memperkirakan 66% perusahaan dalam indeks Russell 1000 akan membukukan laba di atas perkiraan, dibandingkan sedikit di atas 60% pada kuartal II. Sektor teknologi diperkirakan mencatat jumlah kejutan positif laba terbanyak.
Situasi yang melatarbelakangi kebijakan ekonomi semakin tidak pasti. Indeks yang melacak ketidakpastian kebijakan ekonomi AS mencatat salah satu kenaikan paling tajam dalam tiga tahun terakhir, meskipun volatilitas pasar masih relatif terkendali.
Ketidakpastian menjelang pemilihan umum turut memengaruhi pergerakan pasar, menurut Matt Miskin, ahli strategi di Manulife John Hancock Investments. Ia mencatat saham perbankan dan industri, dua sektor yang “biasanya berkinerja lebih baik di bawah kebijakan Partai Republik”, belakangan melemah. Kondisi tersebut dapat mengindikasikan bahwa pasar mulai “memperhitungkan kemungkinan gelombang kemenangan yang lebih besar bagi Partai Demokrat”.
Saham perbankan juga tertekan oleh suku bunga kartu kredit, pinjaman kendaraan, dan kredit pemilikan rumah yang semuanya mendekati level tertinggi dalam 20 tahun terakhir, kata Miskin. Pemberi pinjaman dapat diuntungkan karena “imbal hasil yang lebih tinggi dapat meningkatkan pendapatan. Namun, kondisi itu juga dapat mencapai titik ketika konsumen benar-benar tidak mampu membayar pinjaman semacam ini,” ujarnya.
Dalam berita korporasi, Broadcom Inc telah mempertimbangkan transaksi berskala besar lainnya setelah meluncurkan pendanaan utang senilai US$60 miliar untuk mendukung pengembangan infrastruktur AI Anthropic PBC. Sementara itu, Solidigm milik SK Hynix Inc telah memilih sejumlah bank utama untuk menangani rencana penawaran umum perdana saham (IPO) di AS pada tahun depan, menurut sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Saham-saham sektor ritel menjadi sorotan pada Kamis setelah PepsiCo Inc memangkas proyeksi labanya. Perusahaan itu menyatakan pemulihan bisnisnya di Amerika Utara membutuhkan waktu lebih lama daripada perkiraan. Perusahaan denim Levi Strauss & Co juga mencatat pertumbuhan paling lambat pada kanal penjualan langsung ke konsumen sejak akhir 2022, sebagian akibat kesalahan strategi pemasaran. Meski demikian, perusahaan tersebut menaikkan proyeksi laba untuk setahun penuh.
Saham Chipotle Mexican Grill Inc melonjak 6% setelah Financial Times melaporkan bahwa Starbucks Corp dalam beberapa bulan terakhir telah bekerja sama dengan sejumlah penasihat untuk menyiapkan proposal akuisisi jaringan restoran burrito tersebut. Saham Palantir Technologies Inc naik tipis setelah Goldman Sachs menaikkan rekomendasinya menjadi buy dari sebelumnya neutral, dengan alasan kinerja saham itu tertinggal sepanjang tahun ini. Sementara itu, saham Devon Energy Corp naik 2,17% setelah perusahaan menyepakati penjualan asetnya di Eagle Ford kepada Crescent Energy senilai US$4,22 miliar dalam bentuk tunai.
(bbn)



























