Metana merupakan gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dampaknya dibandingkan dengan karbon dioksida dalam jangka pendek, dengan potensi pemanasan sekitar 80 kali lebih tinggi dalam 20 tahun pertama setelah dilepaskan ke udara.
Sektor migas merupakan sumber polusi metana industri terbesar di negara tersebut. Metana merupakan komponen utama gas alam, sehingga menjadi sumber energi yang berharga.
Namun, para operator seringkali melepas gas tersebut langsung ke udara atau membakarnya selama operasi berlangsung; gas ini juga dapat bocor dari sumur, jaringan pipa, dan peralatan pengolahan.
Pemerintahan Biden telah mengesahkan aturan komprehensif pada tahun 2024 untuk menekan pelepasan metana dari lokasi migas, yang menuntut penghentian bertahap beberapa praktik pembakaran rutin serta pengetatan persyaratan terkait pemantauan emisi dan perbaikan kebocoran.
Aturan itu juga meluncurkan Program Methane Super Emitter, yang dirancang agar kelompok pihak ketiga yang disetujui dapat membantu mengidentifikasi dan melaporkan sumber emisi terbesar.
Pemerintahan Trump periode kedua telah mengambil berbagai langkah untuk menunda penegakan aturan tersebut.
Dengan usulan baru ini, EPA tampaknya melangkah lebih jauh dari sekadar menunda kepatuhan, termasuk dengan menghapus Program Super Emitter.
Badan tersebut menyatakan bahwa program tersebut tidak dianggap "diperlukan untuk memenuhi persyaratan Undang-Undang Udara Bersih [Clean Air Act] dan tidak efektif.”
EPA kini juga mengusulkan pendekatan regulasi yang berbeda untuk sumur-sumur marginal—yang menghasilkan kurang dari 15 barel minyak atau kurang dari 90.000 kaki kubik gas per hari.
Berbeda dengan aturan era Biden yang menerapkan kontrol metana yang sama bagi sumur berproduksi tinggi maupun rendah, EPA menyatakan berencana untuk "membuat kategori terpisah bagi lokasi sumur, masing-masing dengan standar tersendiri yang sesuai dengan kondisi jenis sumur tertentu." EPA tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Pekan lalu, National Stripper Well Association, asosiasi perdagangan industri, mendesak EPA untuk "mengecualikan" sumur marginal dari aturan tahun 2024 tersebut.
EPA menyatakan pihaknya juga mengusulkan untuk "meninjau kembali pendekatan keseluruhan dalam mengatur gas ikutan [associated gas] dari sumur minyak," guna memperbarui standar emisi untuk penutup sumur dan sistem ventilasi tertutup, serta melakukan "perubahan teknis guna memberikan fleksibilitas terkait penyimpangan data pemantauan nyala api, peringatan perangkat pengendali, dan kondisi uji emisi kasat mata jika dianggap perlu."
Kelompok lingkungan mengkritik langkah tersebut. "Menghapus langkah-langkah perlindungan ini berarti lebih banyak energi yang terbuang, lebih banyak polusi metana, dan risiko kesehatan lebih besar bagi masyarakat yang tinggal di dekat lokasi operasi minyak dan gas," ujar Jon Goldstein, associate vice president bidang transisi energi di Environmental Defense Fund, dalam pernyataan yang dikirim melalui email.
Usulan EPA yang akan datang ini sejalan dengan langkah-langkah sebelumnya untuk mencabut aturan iklim federal. Bulan lalu, para pejabat telah menyelesaikan pencabutan aturan polusi karbon tahun 2024 untuk pembangkit listrik.
(bbn)































