Logo Bloomberg Technoz

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun dari 109,4 menjadi 107,5, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru naik dari 127,6 jadi 128,7. 

Jika ditelisik berdasarkan kelompok pengeluaran, maka ada dua persepsi yang berbeda terhadap kondisi ekonomi saat ini. Kelompok dengan pengeluaran Rp1-2 juta mencatat IKE hanya 93,2 turun 1,8 poin dan sudah berada di zona pesimistis. 

Sementara itu, kelompok Rp2,1-Rp3 juta dan Rp3,1-Rp4 juta masih berada di zona optimis, tetapi dengan selisih yang sangat tipis, masing-masing sebesar 102,1 dan 103,9. Data tersebut menunjukkan bahwa optimisme terhadap kondisi ekonomi saat ini kian rapuh pada kelompok berpengeluaran rendah hingga menengah. 

Sebaliknya, persepsi justru membaik pada kelompok pengeluaran yang lebih tinggi. IKE kelompok Rp4,1-Rp5 juta mencapai 109,2 naik 0,8 poin. Sedangkan kelompok di atas Rp5 juta mencatat indeks tertinggi sebesar 114,1 meski turun 2,3 poin. 

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE), kelompok pengeluaran terendah justru pesimis. (Diolah, Bank Indonesia)

Hal ini menggambarkan adanya korelasi antara kemampuan pengeluaran dengan persepsi yang lebih positif terhadap kondisi ekonomi saat ini. Untuk diketahui, IKE menggambarkan bagaimana konsumen melihat kondisi ekonomi yang mereka hadapi saat ini.

Sedangkan IEK mencerminkan bagaimana mereka melihat kondisi enam bulan ke depan. Dengan kata lain, persepsi terhadap hari ini melemah, namun harapan terhadap enam bulan ke depan masih ada, dan justru menguat. 

Rasio Konsumsi vs Tabungan

Data IKK juga menggambarkan adanya peningkatan proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi. Angkanya naik tipis dari 74,2% jadi 74,9% pada September. Pada saat yang sama, proporsi pembayaran cicilan turun dari 10% menjadi 9,7%, dan tabungan juga ikut turun dari 15,8% menjadi 15,4%. 

Adapun, penurunan proporsi tabungan mengindikasikan masih adanya perilaku mantab, alias makan tabungan. Untuk diketahui, kelompok pengeluaran yang terlihat memiliki proporsi konsumsi lebih tinggi adalah Rp1-2 juta yang menggunakan sekitar 77,2% pendapatannya untuk konsumsi. 

Sedangkan kelompok di atas 5 juta sekitar 72%. Namun kelompok ini masih memiliki rasio tabungan sekitar 16,9%, tertinggi di antara kelompok pengeluaran lainnya. 

Adanya kenaikan proporsi konsumsi di kelompok pengeluaran rendah bukan tanda bahwa mereka percaya diri dengan melakukan banyak pengeluaran. Hal ini justru menggambarkan kondisi terbatasnya financial buffer, lantaran mereka harus mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan konsumsi.  

Lebih dari itu, besarnya proporsi pengeluaran ini juga bisa menjadi indikasi bahwa inflasi telah menggerus sebagian besar pendapatan rumah tangga. Sementara, penghasilan masyarakat belum mampu mengimbangi laju inflasi September sebesar 3,28%, yang dipicu oleh kenaikan harga minyak global. 

Fenomena 'Downgrade'  Gaya Hidup

Retaknya keyakinan konsumen dan optimisme mereka di kelompok pengeluaran rendah dan menengah, mengonfirmasi adanya fenomena 'downgrade' gaya hidup yang ramai diperbincangkan di media sosial dalam beberapa pekan terakhir. 

Dalam beberapa unggahan di media sosial, pola konsumen bukan berhenti membeli, melainkan mengganti pilihan dengan versi yang lebih murah: dari kendaraan mahal ke yang lebih ekonomis, mengurangi frekuensi nongkrong di kafe, kian rajin membawa bekal, menurunkan spesifikasi barang yag dibeli dengan mengutamakan fungsi, hingga memangkas pengeluaran skincare dan hiburan. 

Sejumlah unggahan juga menunjukkan adanya keputusan konsumen untuk mengurangi konsumsi sekunder demi mempertahankan kebutuhan dasar dan kesehatan keuangan rumah tangga. 

Adanya fenomena downgrade gaya hidup dan cara konsumen berkonsumsi dapat dibaca sebagai ekspresi dari lemahnya rasa aman ekonomi, yang sebenarnya tidak tertangkap oleh data IKK secara agregat. IKK September memang masih di 118,1, di atas 100, yang berarti 'optimistis'. IKK secara agregat masih di zona optimis, ekspektasi naik, dan proporsi pendapatan untuk konsumsi ikut terungkit. 

Namun, angka tersebut terutama ditopang ekspektasi masa depan yang sangat kuat, dengan IEK mencapai 128,7. Sementara persepsi kondisi ekonomi saat ini justru turun ke 107,5.

Kondisi ini menunjukkan bahwa fondasi optimisme itu mulai terbelah. Konsumen yang memiliki kemampuan pengeluaran lebih besar cenderung memiliki optimisme tinggi. Sebaliknya, konsumen dengan kemampuan pengeluaran memiliki optimisme lebih rendah, bahkan kian pesimis. Jika terus dibiarkan, fenomena ini akan menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2026.

Upaya mendorong pertumbuhan bukan sekadar mempertahankan IKK berada di atas 100 secara agregat. Melainkan, bagaimana memastikan kualitas optimisme itu merata yang dapat diterjemahkan menjadi adanya perbaikan pendapatan, kesempatan kerja, dan daya beli yang benar-benar bisa dirasakan masyarakat, bahkan untuk kelompok pengeluaran terendah sekalipun. 

(dsp/aji)

No more pages