Logo Bloomberg Technoz

Pertumbuhan kuat tersebut terjadi meski jumlah hari kerja pada September tahun ini lebih sedikit akibat libur Chuseok pada 24-26 September. Libur tersebut jatuh pada Oktober tahun lalu, sehingga menciptakan efek kalender yang dapat memengaruhi perbandingan tahunan.

"Tak diragukan lagi, ekspor dan neraca perdagangan September jauh lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar dan perkiraan kami," kata Jiuk Choi, ahli strategi makro Asia Pasifik di State Street Bank. Dia memperkirakan pertumbuhan ekspor mulai melambat pada kuartal IV akibat efek basis.

Namun, dia menambahkan bahwa meningkatnya investasi global terkait kecerdasan buatan dan kenaikan harga cip high-bandwidth memory (HBM) akan menopang ekspor.

Data tersebut menunjukkan momentum perdagangan Korsel tetap kuat hingga akhir kuartal III, mendukung pandangan Bank of Korea (BOK) bahwa perekonomian mampu menghadapi biaya pinjaman yang lebih tinggi. Kondisi ini juga memperkuat alasan bagi bank sentral untuk kembali memperketat kebijakan moneter.

Bank sentral menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3% pada Agustus, kenaikan kedua secara berturut-turut. Langkah tersebut diambil setelah pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan dan inflasi yang tetap tinggi mendorong pembuat kebijakan bertindak lebih awal.

BOK juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 3,3% dari 2,6%, dengan alasan ekspor dan investasi yang kuat didorong oleh pembangunan infrastruktur AI global. Proyeksi suku bunga dalam enam bulan ke depan memiliki median 3,25%, yang mengindikasikan satu kenaikan lagi sebesar 25 basis poin. Namun, Gubernur Shin Hyun Song mengatakan angka tersebut menunjukkan laju pengetatan yang bertahap setelah dua kenaikan berturut-turut.

Choi memperkirakan pertumbuhan kuartal III secara umum akan sejalan dengan proyeksi BOK sebesar 0,3% secara kuartalan. Dia juga memperkirakan bank sentral sedikit menaikkan proyeksi pertumbuhan dan inflasi inti pada November seiring meningkatnya momentum ledakan AI.

JPMorgan Chase & Co melihat adanya risiko suku bunga perlu dinaikkan lebih tinggi jika pertumbuhan yang didorong industri chip menghasilkan inflasi yang lebih kuat tanpa tekanan signifikan di pasar keuangan. Bank investasi asal Wall Street tersebut memperkirakan BOK akan menaikkan suku bunga pada November, kemudian kembali menaikkannya pada Februari dan Mei, sehingga suku bunga acuan mencapai 3,75%.

Ledakan industri cip juga mengubah kebijakan fiskal pemerintah. Korsel memperkirakan penerimaan pajak nasional mencapai rekor 478,6 triliun won atau sekitar US$353 miliar tahun ini, naik 28% dari 2025. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan laba perusahaan semikonduktor, dividen khusus dari produsen cip, pasar saham yang menguat, serta pemulihan konsumsi.

Inflasi juga menjadi pertimbangan utama bagi BOK. Pertumbuhan harga konsumen secara keseluruhan meningkat menjadi 3,1% pada Agustus, sementara inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi yang bergejolak naik menjadi 3,4%. Data tersebut menunjukkan tekanan harga yang mendasari masih kuat.

Kekuatan ekspor yang berlanjut juga memperbaiki posisi eksternal Korsel dan berpotensi mendukung penguatan won. Kondisi tersebut dapat membantu menekan inflasi impor sekaligus memberikan fleksibilitas bagi pembuat kebijakan dalam menentukan waktu kenaikan suku bunga berikutnya.

Berdasarkan negara tujuan, ekspor ke China meningkat 123%, sementara pengiriman ke AS melonjak 137%. Ekspor ke India dan Uni Eropa masing-masing naik 50% dan 21%.

(bbn)

No more pages