Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Melemah, Tersengat Data Keyakinan Konsumen yang Memudar

Tim Riset Bloomberg Technoz
08 October 2026 15:55

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah ditutup melemah terbatas 0,09% ke level Rp17.898/US$, menyusul kenaikan harga Brent ke US$104/barel. 

Sebagian besar mata uang Asia juga berbalik arah, dengan pelemahan yang cukup tajam. Dolar Taiwan melemah bersama peso Filipina sebesar 0,2%, disusul won Korea Selatan 0,11%, dan rupiah Indonesia, dolar Singapura, ringgit Malaysia dan yen Jepang, juga rupee India. 

Pergerakan mata uang Asia berbalik arah dan melemah, usai kenaikan minyak Brent ke US$104/barel.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh konflik dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz yang membuat adanya lonjakan tarif angkutan minyak sekaligus memperketat pasokan kapal tanker secara global. Setidaknya lebih dari 40% armada very large crude carriers (VLCC) dunia kini berada di Teluk Persia, atau dalam jarak beberapa hari pelayaran dari kawasan tersebut lantaran operator kapal berlomba memanfaatkan tarif pengangkutan yang tinggi. 


Bahkan, melansir Bloomberg, biaya pengiriman minyak dari Teluk Persia ke Asia Timur juga ikut melonjak lebih dari enam kali lipat dibandingkan sebelum konflik. Tarif VLCC untuk rute tersebut mencapai hampir US$1,4 juta per hari, naik sekitar 540% sejak sebelum perang, sementara harga Brent hanya naik sekitar 40%. 

Kondisi ini semakin diperburuk oleh praktik ship-to-ship transfer di luar Selat Hormuz yang tidak efisien, alhasil semakin banyak kapal terkonsentrasi di kawasan Timur Tengah dan semakin sedikit VLCC yang tersedia untuk rute lain.