Meski demikian, pertumbuhan kunjungan pada Agustus tercatat lebih rendah, yakni sekitar 3%. Raymond menilai kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi musim panas di Jepang yang membuat sebagian wisatawan Indonesia mungkin memilih mengurangi perjalanan ke negara tersebut.
"Lalu di bulan Agustus sendiri memang kenaikannya hanya sekitar 3%, tapi mungkin juga karena di Jepang sendiri adalah musim panas. Jadi orang Indonesia kalau ke tempat yang musim panas mungkin agak sedikit berkurang," jelasnya.
Di sisi lain, Raymond melihat pola perjalanan wisatawan Indonesia ke Jepang mulai berubah. Jika sebelumnya wisatawan lebih banyak memilih rute populer atau golden route seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka, kini mereka mulai mengeksplorasi lebih banyak kota.
"Waktu dulu mungkin hanya golden route, tapi mereka sekarang sudah eksplor ke banyak kota-kota lainnya," kata Raymond.
Menurutnya, sejumlah destinasi yang mulai banyak dieksplorasi wisatawan Indonesia antara lain Hokkaido, Kyushu, Fukuoka, Toyama, dan Komatsu.
Raymond mengatakan pilihan destinasi tersebut turut didukung oleh layanan penerbangan domestik gratis di Jepang bagi penumpang yang membeli tiket penerbangan internasional tertentu. ANA juga memiliki jaringan penerbangan ke sekitar 50 bandara dari Tokyo sehingga memberikan lebih banyak pilihan bagi wisatawan.
"Jadi banyak sekali sekarang yang mengeksplor ke kota-kota lain lagi. Tidak hanya Tokyo, Osaka, tapi sudah mulai ke Hokkaido, Kyushu, Fukuoka, lalu ke Toyama, Komatsu, banyak sekali," ujarnya.
Raymond menilai salah satu alasan wisatawan Indonesia kembali memilih Jepang adalah karena negara tersebut menawarkan pengalaman berbeda di setiap musim, mulai dari musim dingin, panas, semi, hingga gugur.
"Karena Jepang itu selalu menawarkan hal yang berbeda di setiap musimnya. Musim dingin, musim panas, musim semi, musim gugur pun jadi sesuatu hal yang menarik," tuturnya.
Selain variasi musim dan destinasi, faktor harga juga dinilai menjadi salah satu daya tarik. Menurut Raymond, biaya makan dan kebutuhan selama berada di Jepang masih relatif terjangkau bagi wisatawan Indonesia, ditambah nilai tukar yang dinilai tidak terlalu tinggi dibandingkan sejumlah negara lain.
"Banyak sekali tempat-tempat baru, lalu harganya juga lebih terjangkau. Karena hampir semuanya itu mirip dengan yang ada di sini. Jadi makan pun nggak terlalu mahal, dengan kurs yang nggak terlalu tinggi seperti di negara-negara lain," katanya.
Sementara itu, Head of Marketing & Customer, International Wealth and Personal Banking (IWPB) HSBC Indonesia Fransisca Arnan mengatakan Jepang juga menjadi salah satu tujuan dengan transaksi nasabah yang tinggi.
Menurut Fransisca, transaksi terkait perjalanan ke Jepang mencakup hotel, penerbangan, serta aktivitas shopping dan dining. Secara keseluruhan, transaksi tersebut meningkat 24% secara tahunan, dengan Jepang menyumbang sekitar 15% terhadap total overseas spending nasabah.
"Tadi yang saya sampaikan, peningkatannya itu 24% year-on-year dengan kontribusi dari Jepang sendiri itu 15% terhadap total overseas spending-nya kita," kata Fransisca.
Dia menambahkan, tren transaksi tersebut masih terus mengalami peningkatan.
(dec/spt)






























