Dalam kesempatan itu, Prabowo meresmikan langsung proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar atau setara Rp180 triliun, dari total tersebut sekitar 3 proyek diresmikan operasi komersial, 1 proyek diresmikan ekspor perdana, dan 7 proyek lainnya dilakukan groundbreaking.
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani menjelaskan total nilai investasi dari 3 proyek yang beroperasi komersial perdana dan 1 perusahaan yang mengekspor bahan baku baterai perdana mencapai US$3,4 miliar atau sekitar Rp60 triliun.
Selain itu, Rosan menjelaskan terdapat peletakan batu pertama untuk 7 proyek dengan nilai investasi sekitar US$6,8 miliar.
Dia menjelaskan sejumlah proyek yang dilakukan groundbreaking adalah produk olahan nikel, komponen baterai EV, aluminium elektrolit, pabrik photovoltaic glass (PV) atau panel surya, hingga proyek truk listrik untuk pertambangan.
“Kemudian yang akan groundbreaking adalah material baterai berbasis nikel juga, separator baterai EV dan ini adalah yang pertama, elektrolit baterai EV dan juga aluminium elektrolit ada dua dan juga alat berat berbasis listrik yang akan dibangun untuk truk pertambangan dan juga photovoltaic glass untuk solar energy,” kata Rosan dalam kesempatan yang sama.
Adapun proyek yang melakukan ekspor perdana meliputi bahan baku baterai berupa nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium ferro phosphate (LFP) dari PT REPT Batero Indonesia.
Sementara itu, proyek yang telah memasuki operasi komersial yakni pabrik mixed hydroxide precipitate (MHP) dari PT Blue Sparking Energy, smelter aluminium elektrolitik dari PT Pioneer Aluminium Industries, serta pabrik komponen alat berat berbasis EV dari PT XCMG Indonesia Manufacturing.
Selain itu, terdapat tujuh proyek yang melakukan peletakan batu pertama, yakni PT Guang Ching Nickel Cobalt, PT Inno Prima Material, PT Tinci Materials Indonesia, PT Weda Bay Aluminium, PT Bintang Karya Aluminium, PT Flat Solar Energy Indonesia, dan PT Foton Guangqing Motor Indonesia.
Sekadar catatan, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) melaporkan kualitas 3 sungai yang berada di tengah kawasan IWIP—Sungai Wosia, Sungai Ake Doma, dan Sungai Kobe — memiliki kandungan nikel total dan tersuspensi total (TSS) yang melampaui peraturan.
Adapun, hasil temuan tersebut dilandasi oleh pengujian sampel yang dilakukan sepanjang 28 April sampai dengan 25 Mei 2023 dengan metode AAS.
Hasilnya menunjukan nilai kandungan nikel total di Sungai Ake Doma diklaim mencapai 4,55 mg/L, Sungai Wosia 4,37 mg/L, dan Sungai Kobe 4,84 mg/L.
Di sisi lain, terdapat kebakaran yang sempat terjadi di fasilitas penyimpanan kapur atau quicklime di kawasan IWIP, yakni milik PT Huafei Nickel Cobalt medio Februari 2026.
PT Huafei Nickel Cobalt mengungkapkan kebakaran terjadi gegara hujan lebat yang merembes ke dalam gudang sehingga memicu reaksi eksotermik yang menyulut beberapa karung di gudang.
Manajemen memastikan kejadian tersebut hanya menyebabkan kerusakan kecil pada gedung penyimpanan kapur, sehingga seluruh operasional smelter nikel perseroan berjalan secara normal.
Manajemen Huafei mengklaim kobaran api yang terlihat cukup besar terjadi karena kebakaran terjadi saat malam, sehingga api terlihat lebih intens daripada kenyataannya.
IWIP memiliki luas sekitar 3.000 hektare dan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung industri, mulai dari pembangkit listrik hingga pelabuhan.
Selain pengolahan nikel untuk kebutuhan industri baja nirkarat, kawasan ini juga terus dikembangkan untuk masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik.
IWIP tercatat dimiliki tiga perusahaan asal China, yakni Tsingshan Holding Group (40%), Huayou Holding Group (30%), dan Zhenshi Holding Group Co., Ltd (30%).
(azr/wdh)



























