Logo Bloomberg Technoz

IHSG dibuka menguat pagi tadi, tetapi langsung berbalik arah hingga melemah dan terpeleset di zona merah. Pelemahan IHSG melanjutkan tren turun dengan pola pullback setelah mencatatkan penguatan pada perdagangan dua hari sebelumnya. 

Panin Sekuritas mencermati lingkup makro eksternal yang relatif belum akomodatif, termasuk repricing pasar terhadap higher–for–longer suku bunga moneter global yang mendorong penyempitan yield spread aset domestik dan aset benchmark asing. 

“Perkembangan geopolitik pun belum menunjukkan perkembangan yang meaningful, dengan harga minyak brent yang masih bertahan di level US$100 per barel,” papar Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya siang hari ini, Kamis.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan uang primer atau M0 adjusted pada September 2026 yang melambat signifikan menjadi 9,3% year–on–year/yoy (dari sebelumnya 16,3%). Perlambatan M0 ini mengindikasikan ekspansi likuiditas domestik oleh BI yang mulai terbatas, sehingga berpotensi positif untuk rupiah seiring pengetatan likuiditas domestik dapat membatasi supply rupiah dan meredam tekanan depresiasi di tengah tightening cycle oleh The Fed. 

“Hanya saja, ini memberikan downside risk ke pasar modal,” jelasnya.

Wait–and–see kembali terjadi imbas melonjaknya harga minyak akibat ketegangan baru di Timur Tengah, yang memicu kecemasan pasar terhadap inflasi. Harga minyak acuan global Brent melesat 2% lebih hingga menembus level US$102 per barel. 

Kenaikan harga minyak otomatis memperumit prospek ekonomi dengan menambah tekanan inflasi setelah The Fed mengerek suku bunga acuan pada pertemuan bulan lalu, sebuah langkah yang didukung secara bulat oleh para anggota The Fed.

(fad)

No more pages