Logo Bloomberg Technoz

“Dan itu semua berdampak kepada perekonomian domestik, dan kita memposisikan APBN itu yang menjadi shock absorbernya.”

Menurut Suahasil peran APBN sebagai bumper dari efek geopolitik tersebut dicerminkan dari kucuran subsidi dan kompensasi energi, subsidi pupuk, program-program perlindungan sosial, pembangunan infrastruktur.

Ia menyebut bahwa hal Ini adalah shock absorber yang didesain pemerintah  karena APBN-nya bisa dijalankan dengan fleksibel.

“Tapi gak boleh fleksibel dan semau-maunya. Fleksibel, tapi dengan tata kelola yang baik. Tetap dengan aturan di dalam aturan-aturan yang ada,” sebutnya.

Suahasil menyebut bahwa saat ini pemerintah akan terus melakukan rekalibrasi terkait dengan APBN hingga akhir tahun seperti yang dilakukan pada bulan Juni yang lalu.

Pada bulan Juni lalu sejumlah penyesuaian memang dilakukan APBN dengan porsi pendapatan yang naik Rp3.208 triliun dan belanja sebesar Rp3.942 triliun sehingga defisit melebar hingga 2,85%

Sebelumnya pemerintah memproyeksi APBN 2026 memiliki porsi pendapatan sebesar Rp3.154 triliun dengan belanja Rp3.843 triliun dan posisi defisit 2,68%.

Menurut Suahasil, kenaikan penerimaan akan ditipang oleh harga komoditas yang naik dan Coretax yang diklaim sudah bekerja dengan baik. Namun, karena belanja juga mencatatkan kenaikan defisit juga naik.

“Kita akan jaga terus defisit APBN di tingkat yang kredibel, di bawah 3%, dan ini menjadi PR besar, karena sekarang kita harus menjaga kredibilitas anggaran pendapatan dan belanja negara,” kata Suahasil

(ell)

No more pages