Berdasarkan informasi yang dihimpun, ekspor perdana produk olahan mineral di IWIP bakal dilakukan dari sejumlah perusahaan.
Antara lain; produk olahan nikel mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan baku bataerai berupa nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium ferro phosphate (LFP) dari PT REPT Batero Indonesia, aluminium elektrolitik dari PT Pioneer Aluminium Industries, hingga komponen alat berat berbasis energi baru terbarukan (EBT) dari PT XCMG Indonesia Manufacturing.
Sementara itu, sejumlah proyek yang bakal dilakukan peletakan batu pertama, antara lain; PT Guang Ching Nickel Cobalt, PT Inno Prima Material, PT Tinci Materials Indonesia, PT Weda Bay Aluminium, PT Bintang Karya Aluminium, PT Foton Guangqing Motor Indonesia.
IWIP memiliki luas sekitar 3.000 hektare dan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung industri, mulai dari pembangkit listrik hingga pelabuhan.
Selain pengolahan nikel untuk kebutuhan industri baja nirkarat, kawasan ini juga terus dikembangkan untuk masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Sejumlah smelter di kawasan tersebut memproduksi nickel pig iron (NPI), nickel matte, mixed hydroxide precipitate (MHP), electrolytic nickel, hingga nickel sulfate.
IWIP tercatat sebagai Proyek Prioritas Nasional berdasarkan Perpres No. 18 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020—2024.
Kawasan tersebut juga termasuk obyek vital nasional berdasarkan Keppres No. 63 Tahun 2004.
IWIP tercatat dimiliki tiga perusahaan asal China, yakni Tsingshan Holding Group (40%), Huayou Holding Group (30%), dan Zhenshi Holding Group Co., Ltd (30%).
(azr/wdh)































