Logo Bloomberg Technoz

Eniya menegaskan konsep tersebut menjadi salah satu gagasan yang ingin diwujudkan di Indonesia, sehingga masyarakat dapat mengetahui harga listrik pada hari berjalan maupun hari berikutnya.

Lantas, seperti apa sistem tarif listrik real time di Denmark?

Danish Energy Agency mencatat seluruh pelanggan listrik di Denmark telah menggunakan smart meter yang mampu mencatat konsumsi listrik setiap jam dan mendukung penyelesaian tagihan berdasarkan harga pasar per jam.

Selain itu, terdapat sistem DataHub Denmark yang  mendukung pencatatan penggunaan listrik dengan interval 15 menit.

Dengan skema tersebut, konsumen yang menggunakan kontrak harga variabel dapat menghadapi perubahan harga listrik per jam.

Di sisi lain, Danish Utility Regulator mencatat harga spot listrik dapat berubah setiap jam yang dipengaruhi oleh permintaan serta produksi listrik dari pembangkit energi baru terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Dengan begitu, ketika produksi listrik dari PLTB atau PLTS tinggi, harga spot dapat turun sehingga konsumen memiliki insentif untuk menggeser penggunaan listrik ke periode tersebut.

“Penggunaan tarif berbasis waktu makin meluas di kalangan perusahaan jaringan listrik Denmark dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dilakukan sebagai cara untuk memberikan insentif kepada konsumen agar menggeser konsumsi mereka ke periode—biasanya pada malam hari—dengan permintaan yang lebih rendah dan dengan demikian beban yang lebih rendah pada jaringan listrik,” tulis situs resmi Danish Utility Regulator.

Selain harga listrik, Denmark menerapkan tarif jaringan berbasis waktu. Danish Utility Regulator menjelaskan Tarifmodel 3.0 membagi penggunaan jaringan ke dalam periode beban rendah, tinggi, dan puncak.

Pada periode ketika jaringan lebih terbebani, tarif jaringan dapat dibuat lebih tinggi untuk mendorong masyarakat memindahkan penggunaan listrik ke waktu dengan beban jaringan yang lebih rendah.

Danish Utility Regulator mencatat konsumen yang berada dalam skema tarif berbasis waktu dapat menghemat biaya jaringan dengan memindahkan penggunaan listrik, seperti pengisian kendaraan listrik, ke periode beban rendah.

“Jika Anda dikenakan tarif berdasarkan waktu, ada baiknya menyelidiki apakah memungkinkan untuk menggeser konsumsi listrik, misalnya, dengan menjalankan mesin pencuci piring keluarga atau mengisi daya mobil listrik di malam hari, ketika tarifnya paling rendah. Namun, ini terutama berlaku pada periode musim dingin, yang berlangsung dari 1 Oktober hingga 1 April,” tulis Danish Utility Regulator.

Adapun, berdasarkan data Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, pada 2024 EBT menyumbang 90% pembangkit listrik denmark.

Secara terperinci, PLTP menyumbang 58%, biomassa sebesar 21%, PLTS 11%, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 5%, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) 3%, dan minyak 1%.

(azr/wdh)

No more pages