Logo Bloomberg Technoz

Pasar saham mengakhiri rentetan rekor pada Rabu, dengan Indeks S&P 500 acuan turun dari level tertinggi sepanjang masa, sementara minyak mentah Brent sempat tembus US$102.

Hampir seluruh mata uang dalam Group of 10 melemah terhadap dolar AS, dengan euro tertinggal di belakang semua mata uang utama lainnya.

Kenaikan harga energi, tantangan fiskal Prancis, dan risiko politik baru di kawasan tersebut memberikan tekanan pada euro. Mata uang tunggal tersebut turun ke level US$1,12, turun 0,5% pada hari Rabu. Awal pekan ini, euro menyentuh level terendah sejak Mei 2025.

Bulan lalu, bank sentral menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Sejak saat itu, beberapa pejabat Fed menyatakan bahwa masih perlu dilakukan langkah-langkah tambahan untuk mengendalikan inflasi, yang memicu penguatan dolar sementara negara-negara lain berjuang untuk menahan pengetatan moneter dengan skala yang sama. Pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga lebih dari 70 basis poin (bps) dari Fed hingga September tahun depan.

“Selama pertumbuhan ekonomi AS tetap kuat dan arah suku bunga The Fed cenderung naik, dolar kemungkinan akan diminati,” kata Jane Foley, kepala strategi valas Rabobank.

“Hanya mereka yang berani yang akan ingin membeli euro dalam jumlah besar saat ini, dan pasar lebih menyukai posisi short pound menjelang pengumuman anggaran Inggris pada 28 Oktober, sementara di Jepang mungkin masih perlu beberapa bulan lagi sebelum Bank of Japan menaikkan suku bunga.”

(bbn)

No more pages