Kendatipun FTSE Russell menegaskan status pasar saham Indonesia tetap di emerging market, tetapi risiko ketidakpastian masih terus menyelimuti IHSG. Salah satunya ialah menyoal kabar MSCI yang masih melangsungkan freeze saham–saham Indonesia.
Terlebih, MSCI juga memperpanjang review pasar Indonesia hingga November 2026.
MSCI turut memperingatkan status pasar Indonesia dapat digeser menjadi Frontier Market jika reformasi pasar modal tidak optimal. MSCI juga terus menguji konsistensi penerapan benah-benah transparansi saham di Indonesia.
Selama risiko terkait degradasi klasifikasi menjadi Frontier Market dan status freeze belum dicabut oleh MSCI, pasar saham Indonesia masih diambang ketidakpastian. Keputusan final mengenai status pasar Indonesia menjadi perhatian pada MSCI Index Review November 2026.
Dari pengumuman terbaru pagi tadi, FTSE menyatakan akan terus memantau dengan cermat reformasi integritas pasar modal di negara ini.
“Indonesia telah menerapkan berbagai reformasi pasar, termasuk peningkatan pengungkapan informasi kepada pemegang saham, perluasan kategori klasifikasi investor, persyaratan free float minimum, dan peningkatan alat pengawasan pasar,” tutur FTSE Russell dalam tinjauan tahunan klasifikasi negara untuk pasar saham.
Adapun investor asing net sell terbesar pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai Rp132 miliar. Imbas tekanan jual yang deras, saham BBCA melemah 1,2% di posisi Rp6.025/saham.
5 saham dengan net sell investor asing pada Sesi I Selasa (15/9/2026):
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp132,14 miliar
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp96,81 miliar
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp25,36 miliar
- PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp19,77 miliar
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp17,57 miliar
Sementara itu, investor asing net buy terbesar pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencapai Rp60,15 miliar. Terdorong tren pembelian, saham BBRI berhasil menguat 1,3% di posisi Rp3.150/saham.
5 saham dengan net buy tertinggi oleh investor asing sepanjang Sesi I:
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp60,15 miliar
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp21,51 miliar
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp15,45 miliar
- PT Ultrajaya Milk Industry Tbk (ULTJ) Rp8,41 miliar
- PT Multi medika Internasional Tbk (MMIX) Rp5,31 miliar
(fad)




























