Tikus dan kutu juga menjadi salah satu jalur klasik penyebaran pes. Kutu yang terinfeksi dapat menularkan bakteri ketika menggigit manusia.
Menurut Dicky, jalur tersebut juga dapat terjadi dalam mobilitas perdagangan dan transportasi.
"Tikus dan kutu pada kapal kargo ini juga menjadi jalur klasik pandemi dari pes ini. Kutu atau tikus biasanya terbawa di kapal, peti kemas, atau muatan bahan pangan," ujarnya.
2. Komoditas atau Barang yang Terinfeksi
Selain melalui hewan secara langsung, pes juga secara historis dapat terbawa melalui perdagangan komoditas.
Dicky mengatakan, masuknya pes ke Tanah Jawa pada masa lalu menjadi salah satu contoh. Pada 1910, pes masuk melalui beras impor dari Burma yang membawa tikus dan kutu terinfeksi.
Artinya, pergerakan barang dari satu wilayah ke wilayah lain dapat menjadi jalur risiko apabila terdapat hewan pengerat atau kutu yang membawa bakteri pes.
3. Hewan Peliharaan
Hewan peliharaan juga dapat menjadi salah satu perantara. Dicky menyebut kucing dan anjing berpotensi membawa kutu yang terinfeksi.
Khusus kucing, risiko tidak hanya berasal dari kutunya. Kucing yang terinfeksi juga dapat menularkan pes kepada manusia melalui droplet apabila mengalami infeksi pada paru-paru.
"Kucing juga bisa tertular dan menularkan ke manusia lewat droplet, karena kucing itu bisa batuk," jelasnya.
4. Satwa Liar
Perdagangan satwa liar juga dapat menjadi salah satu jalur potensial, meskipun menurut Dicky risikonya relatif kecil.
Hal ini berkaitan dengan keberadaan bakteri Yersinia pestis pada populasi hewan pengerat liar beserta kutunya di sejumlah wilayah yang menjadi fokus alami pes.
"Perdagangan satwa liar bisa jadi salah satu jalur potensial meskipun kecil," kata Dicky.
5. Barang Bawaan dan Pakaian
Kutu atau ektoparasit yang terbawa pada barang bawaan maupun pakaian juga secara teoritis dapat menjadi perantara.
Namun, Dicky menilai jalur tersebut bersifat minor dibandingkan jalur melalui hewan pengerat, kutu, atau komoditas yang terkontaminasi.
6. Material Laboratorium
Kasus di Siberia juga menjadi pengingat bahwa material biologis dan aktivitas laboratorium memiliki jalur risiko tersendiri.
Dicky mengatakan, pengiriman spesimen serta penerapan biosafety di laboratorium perlu mendapat perhatian untuk mencegah paparan maupun penyebaran penyakit.
"Dalam konteks ini saya sebagai ahli epidemiologi dan global security melihat bahwa ini adalah kasus infeksi yang didapat di laboratorium. Jadi bukan wabah alami yang muncul dari satwa liar, berbeda dengan COVID-19," ujarnya.
Namun, Dicky menegaskan bahwa diagnosis resmi dari Rusia belum menyebut kasus tersebut sebagai pes sehingga statusnya masih berupa dugaan.
7. Penularan Antarmanusia
Jalur terakhir adalah penularan dari manusia ke manusia. Dicky menjelaskan, penularan antarmanusia terutama berkaitan dengan pes pneumonik, yakni bentuk pes yang menyerang paru-paru.
Pes memiliki tiga bentuk klinis, yakni bubonik, septikemik, dan pneumonik. Pes bubonik umumnya ditularkan melalui gigitan kutu, sedangkan pes septikemik terjadi ketika infeksi menyebar melalui darah.
Adapun pes pneumonik merupakan bentuk yang dapat menular antarmanusia melalui droplet.
"Ini merupakan satu-satunya bentuk pes yang menular antar manusia lewat droplet," kata Dicky.
Meski demikian, Dicky mengatakan penularan pes pneumonik relatif kurang efisien dibandingkan Covid-19 dan umumnya membutuhkan kontak dekat.
Orang yang berada dalam masa inkubasi juga berpotensi melakukan perjalanan sebelum menyadari dirinya terinfeksi. Dicky menyebut masa inkubasi pes dapat mencapai sekitar tujuh hari sehingga secara teoritis seseorang dapat masuk ke suatu negara melalui bandara sebelum gejala muncul.
(dec/spt)





























