Untuk itu, Cecep menyatakan jika terdapat perusahaan pertambangan nikel yang tidak mendapatkan kuota produksi sesuai yang diharapkan maka terdapat sejumlah faktor yang terjadi.
Antara lain; tidak sesuainya data cadangan dengan performa produksi, hingga kebutuhan smelter di masing-masing wilayah.
Dalam kesempatan itu, Cecep memproyeksi realisasi produksi bijih nikel sepanjang tahun ini bakal mencapai sekitar 290 juta mt, atau lebih tinggi dari kuota RKAB 2026 sebanyak 260—270 juta mt.
Cecep menyatakan proyeksi tersebut dihitung dengan mempertimbangan rata-rata produksi bijih nikel hingga kuartal III-2026.
“Forecast-nya tercapai hampir sama dengan yang tahun lalu. Kalau dilihat dari forecast secara ini ya, secara performance masing-masing perusahaan. Hampir sama sih, sekitar di angka 290an [juta mt],” tegas Cecep.
Meskipun terdapat disparitas antara kebutuhan bijih smelter dan proyeksi realisasi produksi, Cecep menegaskan kekurangan pasokan bijih tersebut dapat teratasi dengan stok yang dimiliki saat ini.
Cecep memperkirakan stok bijih nikel nasional pada akhir 2025 mencapai sekitar 40 juta mt, sehingga tidak terdapat defisit bijih yang terjadi.
“Sebenarnya kalau kita lihat ke angka 2025 akhir itu, mereka punya stok sekitar mendekati 40 juta. Mereka bilang kurang itu untuk menjamin kepastian target tahun depan ada ketakutan kayak dulu-dulu,” ungkap Cecep.
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat realisasi serapan bijih nikel sepanjang Januari—Juni mencapai 120,6 juta mt atau setara 46,2% dari kuota produksi dalam RKAB 2026 sejumlah 260—270 juta mt.
Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey mencatat saat ini terdapat 422 izin usaha pertambangan (IUP) nikel aktif yang memasok 79 fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter.
Dia menjelaskan 79 smelter tersebut terdiri atas 55 fasilitas pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF), 10 pabrik hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL), 10 penghasil nickel matte, dan 6 smelter baja nirkarat terintegrasi.
Dia mencatat kebutuhan bijih nikel 79 smelter tersebut—jika beroperasi pada kapasitas penuh — dapat mencapai 415 juta mt per tahun.
“Hingga Juni 2026, konsumsi bijih domestik tercatat sekitar 120,06 juta ton, atau kurang lebih 46,2% dari kuota yang disetujui. Sementara itu, kebutuhan 79 fasilitas hilirisasi apabila seluruhnya beroperasi pada kapasitas penuh diperkirakan dapat mencapai sekitar 415 juta ton per tahun,” kata Meidy melalui keterangan tertulis, Senin (20/7/2026).
(azr/wdh)



























