Logo Bloomberg Technoz

Walakin, potensi hilirisasi bauksit menjadi alumina masih sangat besar di Indonesia, sebab sejumlah investor baru merealisasikan penanaman modal di sektor hilir bauksit tersebut.

“Kita sih berharapnya turun sampai ke alumunium ya, karena secara pasokan, kita masih mengandalkan impor juga. Inalum hanya beberapa saja kan pasokannya. Kita juga memberikan kesempatan bagi siapa investor yang bisa sampai ke hilir untuk bauksit ini,” tegasnya.

Sekadar catatan, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan pemberian IUP terhadap koperasi; usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM); hingga organisasi keagamaan tidak bisa dilakukan melalui penunjukan langsung.

Adapun, aturan pemberian IUP secara prioritas tersebut memang tertuang dalam PP No. 39/2025.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya berargumen ketentuan pemberian prioritas penerbitan IUP terhadap organisasi kemasyarakatan keagamaan hingga koperasi tetap memiliki mekanisme yang harus dijalankan.

Meski begitu, dia menghormati putusan MK tersebut dan bakal menerbitkan aturan turunan untuk mengatur pemberian prioritas penerbitan IUP tersebut.

“Ditunjuk itu tidak serta-merta. Harus ada mekanismenya, ada aturannya. Makanya, kita akan membuatkan aturan turunannya yaitu berbentuk permen atau kepmen. Jadi tetap diberikan prioritas. Dia tidak membatalkan prioritas, tetapi harus lebih baik tata kelolanya agar asas transparansi, akuntabilitas itu betul-betul dapat kita lakukan,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (20/7/2026) malam.

Secara terpisah, Bahlil mengonfirmasi Rusal bakal mengembangkan proyek pertambangan bauksit yang terintegrasi dengan pabrik pemurnian alumina.

Dengan begitu, Rusal dipastikan tidak akan membangun pabrik pengolahan atau smelter aluminium di Indonesia.

Bahlil menjelaskan proyek tersebut bakal digarap Rusal bersama perusahaan dalam negeri dan berlokasi di wilayah Kalimantan.

“Oh iya, itu dengan Rusal. Mereka akan membangun hilirisasi dari bauksit untuk menjadi alumina, dan itu di daerah Kalimantan,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (11/9/2026).

Bahlil menyatakan perizinan pembangunan proyek tambang bauksit yang terintegrasi dengan pabrik pemurnian alumina tersebut sudah hampir final.

Selain itu, studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek tersebut juga sedang disusun.

“Untuk urusan perizinannya sudah tahap hampir final, dan kita memang melakukan kolaborasi dan mereka melakukan kerja sama dengan pengusaha dalam negeri,” tegas Bahlil.

Adapun, sebelumnya Rusal memang dikabarkan ‘hanya’ berencana membangun fasilitas bauksit-alumina terintegrasi di Indonesia sebagai bagian dari strategi ekspansi regionalnya

"Rusal sedang mengembangkan proyek pembangunan kompleks bauksit-alumina di Indonesia. Bagi perusahaan, proyek di Indonesia ini merupakan kelanjutan dari strategi diversifikasi di kawasan Pasifik," kata Rusal dalam pernyataan yang dilansir TASS, Kamis (10/9/2026).

Untuk diketahui, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Rusal berminat berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan atau smelter bersama perusahaan dalam negeri.

Prabowo menyatakan produsen aluminium terbesar kedua di dunia itu bakal berinvestasi dengan sejumlah kelompok atau perusahaan di Indonesia.

"Jadi, proyek-proyek ini berjalan sangat baik, terus maju pesat, dan kami juga terus maju pesat di bidang pengolahan, misalnya pertambangan, seperti kerja sama kami dengan entitas aluminium besar—saya kira yang terbesar di dunia—yaitu Rusal," kata Prabowo ketika berbicara sebagai tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, ditayangkan secara daring, Kamis (3/9/2026).

"Rusal akan masuk secara besar-besaran ke Indonesia, mengembangkan pabrik pengolahan bersama dengan kelompok-kelompok Indonesia," tegas Prabowo.

(azr/wdh)

No more pages