Logo Bloomberg Technoz

Media independen Rusia melaporkan bahwa perempuan tersebut kemungkinan terpapar bakteri penyebab pes setelah memecahkan tabung reaksi di lembaga tersebut. Namun, laporan itu belum terverifikasi. Badan kesehatan masyarakat Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan penyelidikan tidak menemukan kecelakaan laboratorium yang melibatkan mikroorganisme berbahaya. Badan tersebut juga mengatakan pemeriksaan ekstensif terhadap sampel dari perempuan itu tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya.

Penyebab resmi penyakit yang dideritanya masih disebut sebagai pneumonia yang berasal dari “penyebab tidak diketahui”. Hampir 200 orang yang kemungkinan melakukan kontak dengan perempuan tersebut dilaporkan berada dalam pemantauan medis, sementara rumah sakit tempat dia dirawat dikarantina. Pembatasan lain juga dilaporkan diberlakukan di sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah tersebut.

Belum ada infeksi pes yang dikonfirmasi pada orang-orang yang melakukan kontak dengannya. Otoritas Rusia mengatakan situasi epidemiologis masih stabil.

Meski demikian, laporan media memunculkan pertanyaan tentang bagaimana kemungkinan paparan pes tersebut bisa terjadi. Pekerjaan yang melibatkan patogen berbahaya biasanya dilakukan dengan beberapa lapis perlindungan untuk mencegah tumpahan atau wadah yang pecah mengekspos pekerja laboratorium.

WHO memantau situasi tersebut dan mengatakan risiko terhadap masyarakat umum tampaknya rendah berdasarkan informasi tidak resmi yang tersedia. WHO tengah meminta informasi dari otoritas Rusia mengenai apa yang terjadi, pemeriksaan laboratorium yang dilakukan beserta hasilnya, alasan pelacakan kontak dilakukan, apakah ada kontak yang jatuh sakit, serta kemungkinan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat internasional.

Apa Sebenarnya Penyakit Pes?

Pes adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Yersinia pestis. Bakteri ini biasanya bersirkulasi di antara hewan pengerat dan mamalia kecil lainnya serta kutu yang hidup pada hewan tersebut.

Manusia biasanya terinfeksi setelah digigit kutu yang terinfeksi atau melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi. Bakteri juga dapat terhirup, sementara penderita pes pneumonik dapat menularkan infeksi kepada orang lain melalui partikel pernapasan.

Ada tiga bentuk utama penyakit pes. Ketiganya disebabkan oleh bakteri yang sama, tetapi terutama menyerang bagian tubuh yang berbeda.

Pes bubonik, bentuk yang paling umum, biasanya menyebabkan demam, menggigil, serta pembengkakan kelenjar getah bening yang terasa nyeri dan dikenal sebagai bubo. Bentuk ini paling erat dikaitkan dengan Black Death pada Abad Pertengahan.

Pes septikemik terjadi ketika bakteri berkembang biak di dalam aliran darah. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan, kerusakan jaringan, kegagalan organ, dan syok.

Pes pneumonik terjadi ketika bakteri menginfeksi paru-paru. Kondisi ini dapat berkembang ketika bentuk pes lainnya menyebar ke paru-paru atau ketika seseorang secara langsung menghirup bakteri tersebut. Gejalanya dapat berkembang dengan cepat dan meliputi demam, lemas, nyeri dada, sesak napas, serta batuk, yang terkadang disertai dahak berdarah.

Apakah Pes Masih Ada Saat Ini?

Ya. Bakteri tersebut masih bertahan dalam populasi hewan liar di sejumlah wilayah Afrika, Asia, dan Amerika, sehingga pes secara realistis tidak dapat diberantas sepenuhnya.

WHO mencatat 3.847 kasus pes pada manusia dan 423 kematian di 10 negara sepanjang 2019 hingga 2025. Sebagian besar kasus terjadi di Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar.

Kasus juga sesekali terjadi di negara-negara maju. AS biasanya mencatat beberapa kasus infeksi setiap tahun, terutama di negara bagian bagian barat, tempat bakteri tersebut secara alami bersirkulasi di antara hewan pengerat liar dan kutunya.

Seberapa Berbahayakah Pes Pneumonik?

Antibiotik, sanitasi modern, dan pengawasan penyakit membuat pes tidak lagi menjadi ancaman seperti berabad-abad lalu. Namun, penyakit ini tetap sangat berbahaya jika tidak segera dikenali dan ditangani.

Pes pneumonik merupakan bentuk penyakit yang berkembang paling cepat. Gejala dapat muncul dalam satu hingga tiga hari setelah terpapar. Tanpa antibiotik yang efektif, infeksi ini dapat menyebabkan kematian dalam sekitar satu harisetelah gejala parah berkembang.

Karena itu, pengobatan dini sangat penting. WHO menyatakan antibiotik yang umum digunakan efektif melawan Yersinia pestis, dan peluang pemulihan tinggi jika pes pneumonik terdeteksi serta ditangani dengan cepat. Orang yang diketahui telah terpapar juga dapat diberikan antibiotik sebelum mengalami gejala.

Masa inkubasi yang singkat juga membuat infeksi biasanya dapat diketahui relatif cepat. Beberapa hari setelah pekerja Rusia tersebut meninggal, belum ada konfirmasi bahwa dia menderita pes. Otoritas juga belum melaporkan penyakit yang menyerupai pes di antara hampir 200 orang yang sedang dipantau. Hal ini sedikit meredakan kekhawatiran bahwa penyakit tersebut, jika memang ada, telah menyebar.

Seberapa Mudah Pes Pneumonik Menyebar?

Pes pneumonik merupakan satu-satunya bentuk utama penyakit pes yang dapat menular langsung antarmanusia.

Orang yang terinfeksi dapat melepaskan bakteri melalui partikel pernapasan saat batuk. Penularan umumnya membutuhkan kontak dekat dengan orang yang sakit, terutama ketika pasien mengalami batuk. Berbeda dengan Covid-19 atau influenza, pes tidak diketahui menyebar secara berkelanjutan di masyarakat melalui orang dengan gejala ringan atau tanpa gejala.

Penderita pes pneumonik biasanya mengalami sakit parah dalam waktu singkat. Hal ini dapat membantu otoritas kesehatan mengidentifikasi kasus dan melacak kontak. Namun, karena penyakit ini berkembang dengan cepat dan dapat menular antarmanusia, satu kasus suspek saja memerlukan respons kesehatan masyarakat yang segera.

Ketika pes pneumonik dicurigai, otoritas kesehatan umumnya bertindak sebelum menunggu konfirmasi laboratorium. WHO merekomendasikan pemberian antibiotik yang sesuai, sekaligus mengidentifikasi dan memantau kontak dekat serta umumnya memberikan antibiotik pencegahan selama tujuh hari.

Mengapa Rusia Memiliki Institut “Anti-Pes”?

Institut anti-pes memiliki sejarah panjang di Rusia dan negara-negara lain yang sebelumnya merupakan bagian dari Uni Soviet.

Pes secara alami ditemukan pada hewan pengerat liar di sejumlah wilayah Asia Tengah dan utara, termasuk Siberia, Mongolia, dan China bagian utara. Rusia telah lama mengoperasikan jaringan laboratorium khusus dan stasiun pemantauan untuk mendeteksi pes pada hewan, menyelidiki infeksi pada manusia, serta mencegah wabah.

Institut Irkutsk didirikan pada 1934 khusus untuk memerangi pes di Siberia dan Timur Jauh Rusia. Tanggung jawabnya kemudian diperluas untuk mencakup infeksi berbahaya lainnya, termasuk kolera, antraks, dan brucellosis, serta berbagai penyakit lain yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Saat ini, institut tersebut mengatakan bahwa mereka memantau wilayah tempat pes bersirkulasi secara alami di Siberia dan Timur Jauh, melakukan pengawasan penyakit dan pemeriksaan diagnostik, memberikan masukan kepada otoritas kesehatan regional, serta membantu menangani wabah penyakit berbahaya.

Hingga Uni Soviet runtuh pada 1991, institut tersebut juga menjadi bagian dari program rahasia senjata biologis yang mencakup penelitian terhadap Yersinia pestis. Sejarah tersebut turut memicu perhatian internasional terhadap insiden di Siberia, meski tidak ada bukti publik yang mengaitkan kematian pekerja di Irkutsk dengan penelitian senjata biologis.

(bbn)

No more pages