Logo Bloomberg Technoz

Harga emas sulit bergerak signifikan akibat dua faktor yang saling tumpang-tindih. Pertama, ada sentimen positif yaitu data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang di bawah ekspektasi.

Pada September, ekonomi Negeri Paman Sam menciptakan 29.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll). Jauh di bawah konsensus pasar yang memperkirakan di angka 90.000. Apalagi jika dibandingkan dengan capaian Agustus di 133.000.

Data ini membuat pasar meyakini bahwa bank sentral Federal Reserve tidak perlu menaikkan suku bunga acuan dalam rapat Oktober. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4-4,25% dalam rapat bulan ini hanya tinggal 22,7%. Seminggu yang lalu, peluangnya masih 70,9%.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.

Namun di sisi lain, ada sentimen negatif yang menjadi beban bagi harga emas yaitu tren kenaikan imbal hasil (yield) obligasi. Kemarin, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2 bps ke 5,304%. Ini menjadi yang tertinggi sejak Maret 2022 atau lebih dari 4 tahun terakhir.

Sebagai non-yielding asset, emas menjadi kurang menarik saat instrumen lain memberikan cuan yang lebih besar. Dua sentimen tersebut berkelindan sehingga pada akhirnya harga emas sulit ke mana-mana.

(aji)

No more pages