Logo Bloomberg Technoz

Menurut Bhima, langkah tersebut juga dapat mulai diaplikasikan untuk proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW). Dia berharap proyek tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun ekosistem industri domestik hingga produk hilir.

Dia menilai hal tersebut dapat dilakukan dengan menarik investasi dan mendorong kerja sama dengan pelaku usaha maupun melalui skema joint venture untuk membangun industri modul panel surya, sel, polimer, hingga produk akhir yang dibutuhkan program PLTS 100 GW.

“Jadi rantai pasok dari komponen dalam negeri untuk transisi energinya pun juga bisa sejalan. Jadi hilirisasi dan transisi energi merupakan satu kesatuan,” ujar Bhima.

Adapun, pada semester I-2026, realisasi investasi hilirisasi mencatatkan angka Rp300,1 triliun, atau menyumbang 29,7% dari total realisasi investasi sebesar Rp1.010,6 triliun. 

Angka ini tumbuh 6,9% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Secara terperinci, penanaman modal asing (PMA) mendominasi capaian tersebut dengan nilai Rp212,8 triliun (70,9%), sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) menyumbang Rp87,3 triliun (29,1%).

Kontributor utama investasi di bidang hilirisasi ini pada semester I-2026 ini dipimpin oleh sektor mineral yakni sebesar Rp 206 triliun yang terutama disumbang oleh komoditas nikel, bauksit, dan tembaga.

Sementara, kontribusi dari sektor perkebunan dan kehutanan mencapai Rp54.4 triliun yang disumbang dari komoditas kelapa sawit sebesar Rp29,5 triliun dan kayu log sebesar Rp16,3 triliun

Komoditas minyak dan gas bumi berkontribusi terhadap hilirisasi sebesar Rp35,4 triliun, kemudian sektor perikanan dan kelautan Rp3,8 triliun.

Sebelumnya, Satgas Hilirisasi menyelesaikan kajian 18 proyek senilai US$38,63 miliar atau sekitar Rp640,4 triliun.

Dari 18 proyek yang diajukan, delapan di antaranya program hilirisasi di sektor mineral dan batu bara (minerba), masing-masing dua proyek di sektor transisi dan ketahanan energi, dan masing-masing tiga proyek di sektor pertanian, kelautan, dan perikanan.

Dalam perkembangannya, Danantara telah melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking empat proyek hilirisasi di sektor energi, dari total enam proyek hilirisasi yang diresmikan pada tahap awal.

Daftar 13 Proyek Hilirisasi Fase II Danantara:

1. Pembangunan Fasilitas Kilang Gasoline di Cilacap, Jawa Tengah (Pertamina)

2. Pembangunan Fasilitas Kilang Gasoline di Dumai, Riau (Pertamina)

3. Pembangunan Tangki Penyimpanan BBM di Palaran, Kalimantan Timur (Pertamina)

4. Pembangunan Tangki Penyimpanan BBM di Biak, Papua (Pertamina)

5. Pembangunan Tangki Penyimpanan BBM di Maumere, NTT (Pertamina)

6. Fasilitas Pengolahan Batu Bara menjadi dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan (MIND ID, Pertamina). Kapasitas 1,4 juta ton per tahun.

7. Fasilitas Produksi Stainless Steel berbahan dasar nikel di Morowali, Sulawesi Tengah (Krakatau Steel). Kapasitas 1,2 juta ton per tahun.

8. Fasilitas Produksi Slab Baja Karbon di Cilegon, Banten (Krakatau Steel). Memiliki kapasitas 1,5 juta ton per tahun.

9. Pengembangan Ekosistem & Produksi Aspal Buton di Karawang, Jawa Barat (Jasa Marga, WIKA)

10. Hilirisasi Tembaga & Emas di Gresik, Jawa Timur (PINDAD, MIND ID). Pengembangan fasilitas brass mill, brass cup dan manufaktur logam mulia di Gresik, Jawa Timur. Kapasitas awal pengembangan mencakup produksi brass cup hingga 10.000 ton per tahun dan periode pembangunan proyek 2026—2029.

11. Hilirisasi Minyak sawit jadi Produk Oleofood dan Biodiesel di KEK Sei Mangkei, Sumatra Utara (PTPN)

12. Pengolahan Pala menjadi Oleoresin di Kebun Awaya Maluku Tengah, Maluku (PTPN). Memiliki kapasitas 2.560 ton biji pala kering per tahun.

13. Fasilitas Pengolahan Kelapa Terintegrasi (MCT, Tepung, Arang Aktif) di Maluku Tengah, Maluku (PTPN). Memiliki kapasitas 300.000 butir kelapa per hari.

(azr/ros)

No more pages