Baru pada hari keempat, Azura memeriksakan diri ke dokter di fasilitas kesehatan milik Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Dokter kemudian meminta pemeriksaan darah.
"Dari tes darah itu kelihatan, kalau enggak salah leukosit ya, leukositnya itu tinggi banget, di atas standar. Kalau kata dia berarti ada infeksi, dan ini di saluran napas atas, berarti ada ISPA," ujarnya.
Namun, Azura tidak menjalani pemeriksaan untuk memastikan apakah ISPA tersebut disebabkan influenza A. Menurutnya, dokter hanya menyampaikan kemungkinan influenza A berdasarkan gejala yang dialaminya.
"Sayangnya enggak dites reagen ataupun swab ini ISPA-nya karena influenza A atau virus lainnya. Tapi diasumsikan bisa, kemungkinan demikian," kata Azura.
Azura menilai pemeriksaan lebih lanjut penting dilakukan karena gejala yang dialaminya cukup berat dan terdapat kehilangan indra penciuman. Dia juga membandingkan pengalamannya dengan saat pernah terinfeksi Covid-19.
"Ini mungkin kemarin mirip-mirip lah kalau melihat dulu tahu orang Covid kayak gimana. Enggak bisa nyium sama sekali, lemesnya, terus kepalanya kayak apa," ujarnya.
Dia berharap fasilitas kesehatan lebih aktif menyarankan pemeriksaan influenza A bagi pasien dengan gejala yang mengarah ke penyakit tersebut. Terlebih, pemerintah mencatat adanya peningkatan kasus influenza A.
"Harapannya dari pemerintah juga bisa lebih aware. Kalau melihat ada yang flunya lebih parah, gejalanya disarankan untuk tes saja," kata Azura.
Azura mengatakan keluarganya tidak mengalami gejala serupa karena sejak dirinya mulai batuk dan bersin, dia berusaha menjaga jarak. Namun, pada waktu yang hampir bersamaan, seorang koleganya juga mengalami gejala yang mirip.
"Dia katanya jauh lebih sudah pulih karena penanganannya lebih cepat. Jadi kalau yang ada tertular keluarga, enggak, tapi ada kawan yang dengan gejala yang persis di waktu yang sama," ujarnya.
Alat Periksa Minim
Pengalaman serupa disampaikan Indrawan. Dia mengatakan anaknya sempat mengalami gejala yang mengarah pada influenza A selama sekitar satu minggu, termasuk demam hingga 40 derajat Celsius, pusing, badan linu, dan gangguan pada perut.
Angga mempertanyakan bagaimana pemerintah melakukan pelacakan kasus influenza A di lapangan. Menurut dia, pemeriksaan di fasilitas kesehatan yang didatangi anaknya belum secara spesifik dapat memastikan influenza A.
"Di klinik itu cek darah enggak ada petunjuk buat diagnosis flu A. Cuma cek DBD dan leukosit saja buat tanda-tanda bakteri," kata Angga.
Dia mengatakan pemeriksaan tersebut juga tidak seluruhnya ditanggung BPJS Kesehatan. Menurut Angga, pemeriksaan yang ditanggung hanya untuk DBD, sementara pemeriksaan lainnya dikenakan biaya sekitar Rp130.000.
"Jadi mirip-mirip kayak penanganan Covid. Statistik dikit, tapi fakta di lapangan banyak banget," ujarnya.
Kemenkes Catat Kasus Influenza A Naik 61%
Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan memang terjadi peningkatan kasus influenza A berdasarkan data hingga 26 September 2026.
"Iya terjadi peningkatan 61%, dan ini jenis influenza A tipe H1N1 ya, bukan superflu," kata Aji saat dihubungi Bloomberg Technoz, Senin (5/10/2026).
Berdasarkan data influenza A hingga pekan ke-38, jumlah kasus yang tercatat antara lain berada di Jawa Timur sebanyak 305.568 kasus, Jawa Barat 190.158 kasus, dan Jawa Tengah 188.623 kasus.
Data tersebut menunjukkan Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah kasus influenza A tertinggi dalam catatan yang disampaikan Kementerian Kesehatan, disusul Jawa Barat dan Jawa Tengah.
(dec)































