Di sisi lain, pelaku pasar pekan ini akan mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang telah menghasilkan keputusan bulat untuk menaikkan suku bunga acuan, Fed Fund Rate (FFR), sebesar 25 basis poin (bps). Risalah rapat ini diperkirakan akan menunjukkan sikap hawkish para pejabat The Fed.
"Kami memperkirakan hampir seluruh peserta rapat menilai setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi masih tepat dilakukan tahun ini, sementara beberapa peserta menginginkan dua kali kenaikan, sejalan dengan dot plot," sebut Andrew Sacher, Ekonom Bloomberg Economics dalam catatannya.
Suku bunga FFR tetap jadi salah satu penggerak mata uang Asia pada kuartal IV-2026. Ekspektasi kebijakan yang lebih hawkish akan membebani pasar valuta di kawasan. Jika pasar semakin yakin The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi, atau bahkan kembali menaikkan suku bunga, tekanan terhadap mata uang Asia berpotensi meningkat.
Namun, pasar sepertinya melihat arah kebijakan suku bunga di kawasan Asia tidak akan seragam dalam enam bulan ke depan. Sebagian bank sentral memilih mempertahankan suku bunga demi menopang pertumbuhan ekonominya. Sementara sebagian lainnya memilih mengetatkan kebijakan demi menjaga stabilitas mata uang dan menekan laju inflasi.
Menurut Chunyu Zhang, Strategis Valuta Asing Bloomberg, ekspektasi itu tidak tercermin dari perkirakaan ekonom atau harga kontrak suku bunga. Pasar forwards valuta asing (FX), yang menjadi gambaran tentang ekspektasi nilai tukar, menunjukkan potensi perubahan mata uang yang lebih besar.
"Ini berarti pergerakan mata uang tidak hanya ditentukan oleh perkirakan suku bunga, melainkan juga oleh faktor lain seperti ktersediaan likuiditas, kebutuhan pelaku pasar untuk melakukan lindung nilai (hedging), serta premi yang muncul," sebut Zhang dalam catatannya.
Ia menambahkan, dari sejumlah mata uang Asia, dolar Taiwan dan rupee India mencerminkan ekspektasi kebijakan yang paling hawkish di pasar FX.
Pagi ini, dolar Singapura melemah 0,12% bersama yuan offshore yang lebih terbatas 0,03%. Namun, won Korea Selatan dan yen Jepang berhasil defensif dengan penguatan masing-masing 0,11% dan 0,08%.
Sementara di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah hari ini mulai kembali tertekan dengan pelemahan sebesar 0,16% ke posisi Rp17.935/US$ pada 07.30 WIB.
Selain harga minyak mentah yang meninggi, yield US Treasury 10 tahun juga telah mencatat kenaikan mingguan selama lima pekan beruntun dan masih berada di level tertinggi sejak 2002, yakni 5,26%.
Kenaikan yield US Treasury ini diikuti indeks dolar, yang meski turun 0,2% pada Jumat, tapi tetap mencatat kenaikan mingguan sekitar 1% dan menguat selama tiga pekan beruntun.
Dari sisi domestik, pekan ini pelaku pasar akan mencermati hasil Survei Konsumen Bank Indonesia. Data ini akan menjadi rujukan pasar terkait sentimen rumah tangga yang menjadi motor perekonomian domestik, apakah sentimennya membaik setelah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sempat naik menjadi 118,5 pada Agustus dari 116,8 pada Juli.
Jika keyakinan konsumen kembali meningkat, maka kondisi itu setidaknya dapat menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap daya belli dan prospek ekonomi domestik masih relatif terkendali. Data IKK yang membaik berpotensi mendukung rupiah lantaran persepsi ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga di mata investor.
Di tengah berbagai sentimen yang ada dan risiko eksternal dari konflik Timur Tengah sebagai sumber risiko premi, belum juga sepenuhnya hilang, rupiah hari ini diperkirakan akan bergerak di rentang Rp17.850-Rp17.950/US$ pada perdagangan pasar spot.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih ada risiko melemah hari ini. Cermati support di level Rp17.910/US$ dengan target pelemahan kedua tertahan di Rp17.950/US$.
Apabila kembali menjebol kedua support tersebut, maka rupiah bisa saja melemah lebh lanjut menembus Rp18.000/US$ sebagai support terkuatnya.
Namun jika rupiah mampu menguat, maka menarik dicermati area level Rp17.850/US$ dan selanjutnya Rp17.800/US$ secara potensial. Lebih lanjut ada resistance Rp17.700/US$.
(riset/aji)


























