Pengiriman tersebut masih bisa dilanjutkan kembali pada akhir Oktober, setelah liburan berakhir pekan depan. Namun, setiap gangguan pada ekspor China dipantau ketat oleh pembeli dan trader di tengah krisis pasokan global akibat gangguan di Rusia dan Timur Tengah.
Perusahaan milik negara seperti Sinopec Group dan Sinochem mendominasi ekspor bahan bakar dari negara tersebut, di mana sebagian besar pasokan dikirim ke perusahaan minyak raksasa dan perusahaan perdagangan, yang kemudian menyalurkannya ke negara-negara Asia lain.
Meski China bukan eksportir bahan bakar terbesar di Asia—peringkatnya berada di bawah pemain utama seperti Korea Selatan—pasokannya sangat vital pada masa-masa sulit.
Beijing telah lama menekankan pentingnya menjaga pasokan bahan bakar utama domestik yang memadai, termasuk solar, yang dianggap sebagai komoditas strategis.
Pemerintah sempat menginstruksikan kilang-kilang utama pada Maret lalu untuk menangguhkan ekspor solar dan bensin—langkah untuk melindungi konsumen dalam negeri pada masa awal konflik di Timur Tengah—tetapi kebijakan tersebut pada akhirnya dilonggarkan.
Fokus China semakin menguat seiring wilayah belahan bumi utara memasuki musim dingin, dengan sedikit tanda bahwa ekspor bahan bakar akan kembali normal dari kawasan Teluk Persia maupun Rusia, yang baru saja memperpanjang larangan ekspor solar.
Pasokan solar—bahan bakar vital untuk industri dan pemanas—di Asia tidak seketat kondisi pasokan di wilayah Atlantic Basin.
Namun, pengurangan aktivitas yang berkepanjangan dari China akan memperketat pasar dan mendorong harga naik lebih tinggi lagi, meski raksasa-raksasa kilang lain di kawasan tersebut terus mengirimkan kargo ke luar negeri.
Terlepas dari industri penyulingannya yang sangat besar, China sedang bergulat dengan pasokan minyak mentah yang mahal dan penurunan tajam aliran pasokan dari Iran, yang merupakan pukulan bagi kilang-kilang swasta skala kecil. Persediaan bahan bakar domestik telah anjlok.
(bbn)






























