Gangguan-gangguan tersebut memperparah tantangan yang lebih luas, termasuk penurunan kualitas bijih, kecelakaan kerja, dan berbagai kendala lain di beberapa tambang terbesar di negara tersebut.
Menurut data yang dirilis pada Rabu oleh badan statistik nasional INE, produksi Agustus turun 13% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 369.500 metrik ton.
Angka ini merupakan yang terendah untuk bulan mana pun sejak Februari 2011—bahkan lebih rendah dibandingkan tingkat produksi saat terjadi aksi mogok kerja pada tahun 2017 di tambang Escondida milik BHP Group, tambang tembaga terbesar di dunia.
Penurunan ini menambah tekanan pada industri yang telah berjuang selama bertahun-tahun untuk memulihkan tingkat produksi ke level tertinggi sebelumnya, meski harga tembaga sedang tinggi dan investasi mencapai miliaran dolar.
Pihak berwenang Cili telah berulang kali menurunkan ekspektasi mereka untuk produksi tahun 2026, di mana pemerintah memperingatkan kemungkinan penurunan sebesar 7% pada tahun ini.
(bbn)































