Jepang berada di posisi berikutnya dengan 525 poin. Korea dan Hong Kong sama-sama mencatat 522 poin, sementara Estonia berada di posisi selanjutnya dengan 508 poin.
Dominasi Asia Timur terlihat dari tujuh posisi teratas. Hanya Estonia yang berada di luar kawasan tersebut dalam daftar tujuh besar capaian matematika PISA 2025.
Daftar Skor Matematika PISA 2025
Berikut sejumlah hasil skor matematika yang tercantum dalam data OECD:
-
China: 612 poin
-
Singapura: 563 poin
-
Makau: 549 poin
-
Chinese Taipei: 546 poin
-
Jepang: 525 poin
-
Korea: 522 poin
-
Hong Kong: 522 poin
-
Estonia: 508 poin
-
Swiss: 499 poin
-
Inggris: 488 poin
-
Kanada: 485 poin
-
Polandia: 484 poin
-
Belanda: 483 poin
-
Selandia Baru: 480 poin
-
Irlandia: 480 poin
-
Belgia: 480 poin
-
Australia: 478 poin
-
Austria: 477 poin
-
Ceko: 477 poin
-
Denmark: 471 poin
-
Lituania: 470 poin
-
Finlandia: 469 poin
-
Slovakia: 469 poin
-
Italia: 468 poin
-
Jerman: 464 poin
-
Swedia: 464 poin
-
OECD average: 463 poin
-
Amerika Serikat: 463 poin
-
Turki: 462 poin
-
Slovenia: 460 poin
-
Portugal: 460 poin
-
Latvia: 460 poin
-
Hungaria: 459 poin
-
Prancis: 458 poin
-
Luksemburg: 458 poin
-
Spanyol: 457 poin
-
Kroasia: 455 poin
-
Uni Emirat Arab: 453 poin
-
Norwegia: 452 poin
-
Islandia: 450 poin
-
Vietnam: 443 poin
Data OECD menunjukkan rata-rata matematika negara-negara OECD berada di level 463 poin. Dengan demikian, skor China terpaut 149 poin di atas rata-rata OECD, sementara Singapura berada 100 poin di atas rata-rata tersebut.
Kemampuan Matematika Tidak Sekadar Hafalan
PISA dirancang untuk melihat kemampuan siswa menggunakan matematika dalam konteks kehidupan nyata. OECD mendefinisikan capaian matematika sebagai kemampuan siswa berusia 15 tahun untuk menggunakan matematika dalam memecahkan persoalan dunia nyata.
Artinya, penilaian tidak hanya berfokus pada kemampuan mengingat rumus atau mengikuti prosedur tertentu. Siswa juga dituntut mampu merumuskan, menerapkan, dan menginterpretasikan konsep matematika dalam berbagai situasi.
Dalam PISA 2025, China dan Singapura juga menjadi dua sistem pendidikan dengan performa tertinggi secara keseluruhan dalam tiga bidang utama, yakni sains, matematika, dan membaca.
“PISA 2025 was the largest assessment to date, involving 760 000 students across 91 countries and economies.”
Hubungan Penggunaan Gadget dan Prestasi
Hasil PISA juga menyoroti hubungan antara penggunaan perangkat digital untuk hiburan di luar sekolah dengan capaian akademik siswa.
Menurut data OECD, siswa yang menggunakan perangkat digital untuk aktivitas hiburan selama dua hingga empat jam per hari di luar sekolah memiliki skor matematika lebih tinggi dibandingkan siswa yang menggunakan perangkat dalam waktu lebih sedikit.
Sebaliknya, siswa yang menghabiskan lebih dari empat jam sehari untuk aktivitas digital hiburan cenderung mencatat skor matematika lebih rendah dibandingkan kelompok yang menggunakan perangkat selama dua hingga empat jam.
OECD Tekankan Hubungan Statistik
Temuan tersebut tidak dapat diartikan sebagai bukti bahwa penggunaan gadget secara langsung menyebabkan penurunan prestasi akademik. Hubungan yang ditemukan merupakan hubungan statistik dalam data PISA.
Berbagai faktor lain dapat berperan, termasuk kondisi sosial ekonomi siswa, keterlibatan dalam pembelajaran, kebiasaan belajar, serta pola penggunaan perangkat digital.
OECD juga mencatat bahwa penggunaan teknologi digital perlu dilakukan secara terarah dan proporsional. Dalam PISA 2025, penggunaan perangkat secara berlebihan atau untuk aktivitas rekreasi di lingkungan sekolah dikaitkan dengan capaian yang lebih rendah dalam sejumlah kondisi.
Performa Matematika OECD Menurun
Di tengah tingginya capaian sejumlah negara Asia Timur, hasil PISA 2025 juga menunjukkan tantangan bagi negara-negara OECD.
Rata-rata skor matematika OECD mencapai 463 poin. Dalam jangka panjang, rata-rata skor matematika OECD turun 22 poin antara 2015 dan 2025, yang menurut OECD setara dengan lebih dari satu tahun pembelajaran.
Hasil tersebut menunjukkan adanya kesenjangan performa yang cukup besar antara sejumlah sistem pendidikan dengan rata-rata OECD. China mencatat 612 poin, sedangkan rata-rata OECD berada pada 463 poin.
PISA 2025 sekaligus memberikan gambaran mengenai perubahan kemampuan akademik siswa di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital. Data tersebut menjadi bahan bagi negara peserta untuk mengevaluasi capaian pendidikan dan faktor-faktor yang berkaitan dengan proses belajar siswa.
(seo)






























