Logo Bloomberg Technoz

Pasar obligasi di kawasan Asia Pasifik juga melandai, dengan yield obligasi pemerintah Singapura turun paling tajam 11,3 bps ke 2,43%, obligasi Thailand turun 3,6 bps ke 2,31%, dan Malaysia turun 3,7 bps ke 3,97%. Semuanya merupakan tenor acuan 10 tahun. 

Pergerakan yield itu mendorong penguatan mata uang kawasan. Rupiah menguat paling tajam, disusul yen Jepang, won Korea Selatan, dolar Taiwan, baht Thailand, dolar Singapura, rupee India. Sebaliknya, hanya peso Filipina yang melemah. 

Rupiah menguat bersama mata uang Asia. (Bloomberg)

Meski mata uang Asia rebound hari ini, sejatinya penurunan yield US Treasury masih terbatas, dan berada di kisaran 5,2%. Dengan begitu, daya tarik aset dolar AS belum sepenuhnya hilang. 

Jika data ekonomi AS berikutnya kembali menunjukkan inflasi yang persisten atau pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan yang tercermin dalam nonfarm payrolls, yield US Treasury berpotensi kembali naik dan memberi tekanan baru pada mata uang negara berkembang. 

Data tersebut akan rilis malam ini waktu Indonesia. Berdasarkan konsensus Bloomberg, PCE secara tahunan sama dengan bulan sebelumnya yakni 3,7%. Namun secara bulanan sedikit naik menjadi 0,3% dari 0,2%. 

Sementara, data ketenagakerjaan yang akan tergambar pada nonfarm payrolls akan dirilis pada Jumat (2/10/2026). 

Dari domestik, investor di pasar obligasi juga akan mencermati data-data perekonomian domestik yang akan rilis besok. Inflasi diperkirakan naik menjadi 3,3% yoy dari 3,19% yoy, lantaran adanya kenaikan energi dan fenomena El-Nino yang membuat harga pangan naik. 

(riset/aji)

No more pages