Logo Bloomberg Technoz

Pasar Obligasi Global

Penurunan yield US Treasury membawa angin segar bagi pasar obligasi global. Dari data Bloomberg siang ini, yield obligasi Jepang tenor 10 tahun turun 3,5 bps ke 3,03%, lalu Australia turun 2,3 bps ke 5,34%, yield obligasi Selandia Baru turun 8,6 bps ke 5,02%, begitu juga yield obligasi Korea Selatan turun 5 bps ke 4,4%. 

Pasar obligasi di kawasan Asia Pasifik lainnya juga melandai, dengan yield obligasi pemerintah Singapura turun paling tajam 11,3 bps ke 2,43%, Thailand turun 3,6 bps ke 2,31%, dan Malaysia turun 3,7 bps ke 3,97%. Semuanya merupakan tenor acuan 10 tahun. 

Pergerakan di pasar obligasi global siang ini menunjukkan relief sementara dengan merespons perlambatan ekonomi AS, setelah tekanan jual yang sangat kuat sepanjang September.

Namun, agaknya belum cukup untuk menyebut bahwa tren ini akan berbalik arah secara berkelanjutan. Sebab, pasar masih berada dalam fase repricing terhadap laju inflasi, suku bunga, dan adanya risiko fiskal. 

Akan tetapi, data kepercayaan konsumen itu juga belum cukup untuk mengubah arah kebijakan The Fed. Sebab, survei kepercayaan konsumen itu dilaksanakan pada 1-23 September, kala suku bunga AS baru saja naik dan ketegangan geopolitik sedang menukik. 

Setidaknya, pasar masih harus menunggu data inflasi PCE dan data ketenagakerjaan AS untuk menguji kembali apakah pelemahan sentimen ini bisa diterjemahkan sebagai perlambatan ekonomi. 

Data tersebut akan rilis malam ini waktu Indonesia. Berdasarkan konsensus Bloomberg, PCE secara tahunan sama dengan bulan sebelumnya yakni 3,7%. Namun secara bulanan sedikit naik menjadi 0,3% dari 0,2%. 

Sementara, data ketenagakerjaan yang akan tergambar pada nonfarm payrolls akan dirilis pada Jumat (2/10/2026). 

Dari domestik, investor di pasar obligasi juga akan mencermati data-data perekonomian domestik yang akan rilis besok. Inflasi diperkirakan naik menjadi 3,3% yoy dari 3,19% yoy, lantaran adanya kenaikan energi dan fenomena El-Nino yang membuat harga pangan naik. 

Pergerakan yield di pasar obligasi domestik hari ini cukup meredakan tekanan di pasar valuta. Rupiah kembali bergerak di Rp17.869/US$. 

Untuk diketahui, rupiah bergerak menguat paling tajam di kawasan, disusul yen Jepang, won Korea Selatan, dolar Taiwan, baht Thailand. Sementara, dolar Singapura, juga rupee India, ringgit Malaysia, yuan China, yuan offshore dan dolar Hong Kong menguat lebih terbatas. Sebaliknya, hanya peso Filipina yang melemah hari ini. 

(dsp)

No more pages