Di samping itu, keputusan BI juga akan mempertimbangkan respons kebijakan yang dinilai paling tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus tetap mendukung pertumbuhan.
"Apapun keputusan yang diambil oleh BI semuanya sifatnya data dependent, dan mudah-mudahan itu menjadi bagian dari respon terbaik yang bisa diberikan oleh Indonesia untuk tetap menjaga stabilitas dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi," tegasnya.
Sebagai catatan, pagi ini rupiah diketahui dibuka menguat 0,22% ke Rp17.936/US$ pada perdagangan Rabu (30/9/2026), seiring menguatnya mata uang Asia ditopang oleh sejumlah langkah intervensi bank sentral negara-negara kawasan.
Kondisi ini juga membawa angin segar bagi pasar surat utang domestik. Data Bloomberg 09.03 WIB, menunjukkan yield sebagian tenor pendek-menengah mulai kembali landai.
Imbal hasil atau yield obligasi tenor 1 tahun terpangkas 4,5 bps ke 6,79%, disusul tenor 2 tahun turun 0,5 bps ke 6,87%, dan tenor 3 tahun turun 0,4 bps ke 6,95%. Sementara, yield tenor 5 tahun mulai turun 1,7 bps ke 7,11%. Begitu juga tenor acuan 10 tahun turun 0,9 bps ke 7,2%.
Selain itu, penguatan rupiah juga ditopang oleh intervensi yang dilakukan otoritas moneter di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan NDF.
(lav)




























