Logo Bloomberg Technoz

Kondisi ini juga membawa angin segar bagi pasar surat utang domestik. Data Bloomberg 09.03 WIB, menunjukkan yield sebagian tenor pendek-menengah mulai kembali landai.  

Yield tenor 1 tahun terpangkas 4,5 bps ke 6,79%, disusul tenor 2 tahun turun 0,5 bps ke 6,87%, dan tenor 3 tahun turun 0,4 bps ke 6,95%. Sementara, yield tenor 5 tahun mulai turun 1,7 bps ke 7,11%. Begitu juga tenor acuan 10 tahun turun 0,9 bps ke 7,2%. 

Selain itu, penguatan rupiah juga ditopang oleh intervensi yang dilakukan otoritas moneter RI, Bank Indonesia (BI), di apsar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan NDF. 

Pelaku pasar hari ini akan mencermati arah yield US Treasury usai data ekonomi AS yang belum menggembirakan. Investor juga menantikan data inflasi dan sejumlah indikator ekonomi domestik yang besok akan dirilis. 

Berdasarkan konsensus Bloomberg, inflasi diperkirakan berada di 3,3%, naik dari capaian pada bulan sebelumnya 3,19%, akibat kenaikan harga minyak dan dampak El Nino. 

Sementara, impor diperkirakan tumbuh 27,8% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 27,02% pada Juli. Sebaliknya, ekspor diperkirakan hanya tumbuh 2,5%, melambat tajam dari 6,05% pada bulan sebelumnya.

(dsp)

No more pages