Shopify menyebut, agen tetap harus menyerahkan kendali pada pembeli saat input atau persetujuan pengguna diperlukan. Persetujuan yang dimaksud seperti autentikasi 3D Secure atau ketika terdapat elemen interface yang memblokir proses.
Agen AI Bisa Salah
TechCrunch sebelumnya menguji agen belanja Perplexity dengan meminta sistem membeli pasta gigi dari Walmart. Transaksi awal tampak berhasil, tetapi sekitar tiga jam kemudian Perplexity memberi tahu bahwa pembelian gagal karena produk sudah habis. Percobaan berikutnya baru berhasil setelah sekitar delapan jam.
Kegagalan disebutkan diduga berkaitan dengan informasi produk yang tidak diperbarui secara real-time. Artinya, informasi yang digunakan agen AI dapat berbeda dengan kondisi stok sebenarnya di toko.
Kesalahan juga ditemukan ketika menguji Comet, browser berbasis AI milik Perplexity. Saat diminta memesan tempat parkir dengan tanggal tertentu, agen tersebut memasukkan tanggal yang salah.
Sistem kemudian menyatakan tanggal yang diminta sudah penuh dan tetap meminta pengguna melanjutkan checkout. Setelah dikoreksi, agen kembali mengalami masalah serupa.
"Mungkin saja suatu hari nanti, agen AI bisa menjadi bagian dari pengalaman belanja online yang lebih baik daripada yang ada saat ini," tulis laporan tersebut.
Risiko Transaksi
Kekhawatiran terhadap penggunaan agen AI dalam transaksi online datang juga dari sektor perbankan. Bank seperti NatWest dan Bank of America memperingatkan bahwa teknologi tersebut dapat meningkatkan risiko penipuan, fraud, dan pelanggaran privasi data.
Dalam laporan yang dirangkum Investing.com, grup bank yang juga mencakup Capital One dan Commonwealth Bank of Australia mengatakan konsumen antusias terhadap potensi agentic commerce. Namun, perkembangan teknologi dinilai berlangsung lebih cepat dibandingkan standar industri dan perlindungan konsumen.
Laporan tersebut menyebut, konsumen belum jelas apakah agen AI akan bertindak demi kepentingan mereka. Terdapat kekhawatiran agen dapat membeli barang yang salah, mengeluarkan uang terlalu banyak, atau bahkan membuat pengguna kehilangan uang akibat penipuan.
Bank lantas menyoroti risiko ketika agen AI meminta detail kartu pelanggan dan memasukkannya langsung ke situs web, atau mengarahkan pengguna ke metode pembayaran yang menawarkan perlindungan lebih lemah.
Grup bank tersebut berencana mendiskusikan sejumlah proposal dengan pembuat kebijakan, termasuk kewajiban mengungkapkan ketika agen AI terlibat dalam transaksi, transparansi agen AI mengambil keputusan, serta perlindungan terhadap data pelanggan.
Mereka kemudian menilai konsumen dan pedagang perlu tetap memiliki kebebasan memilih layanan e-commerce berbasis AI yang digunakan, sementara sistem dari berbagai penyedia perlu dapat saling beroperasi.
Reuters melaporkan, di sisi lain, penggunaan agen AI dalam pencarian produk mulai meningkat. Peritel Inggris John Lewis menyebut pencarian yang berasal dari agen AI telah mencapai 2,5% pada September 2026, naik dari 0,3% setahun sebelumnya.
"Mereka khawatir bahwa agen AI mungkin membeli barang yang salah atau menghabiskan terlalu banyak - atau lebih buruk lagi, kehilangan uang mereka karena penipuan dan penipuan. Mereka tidak yakin apakah mereka akan dilindungi atau kepada siapa mereka harus pergi jika ada yang salah."
(mef/wep)































