Budi menjelaskan sebagian besar kasus flu dapat ditangani dengan mengandalkan sistem imun tubuh. Sementara itu, antivirus diberikan berdasarkan kondisi dan tingkat keparahan pasien.
Senada, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalusia mengatakan pihaknya memahami kekhawatiran masyarakat seiring meningkatnya perhatian terhadap influenza A dan informasi mengenai ketersediaan oseltamivir di sejumlah rumah sakit.
"Kami memahami kekhawatiran masyarakat dalam beberapa hari terakhir ini terkait meningkatnya perhatian terhadap influenza A dan sulitnya memperoleh obat antivirus oseltamivir di sejumlah rumah sakit," kata Rizka dalam konferensi pers, Senin (28/09/2026).
Rizka juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan panic buying atau membeli oseltamivir secara berlebihan. Menurutnya, sebagian besar kasus influenza tanpa tanda bahaya dapat ditangani dengan istirahat yang cukup dan menjaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi.
"Sehingga tidak setiap orang harus mendapatkan obat antivirus atau oseltamivir ini," ujarnya.
Kemenkes terus mengupayakan ketersediaan oseltamivir bagi pasien yang membutuhkan. Salah satunya melalui percepatan importasi dan distribusi obat. Disebutkan oseltamivir telah didistribusikan ke sekitar 196 rumah sakit.
"Saat ini sudah dilakukan distribusi ke sekitar 196 rumah sakit dan akan terus dilakukan distribusi berdasarkan kebutuhan yang masuk kepada kami," jelasnya.
(dec/del)





























