Jika terealisasi, kinerja itu menunjukkan bahwa permintaan terhadap barang dari luar negeri tumbuh lebih cepat daripada kemampuan ekspor dalam menghasilkan devisa. Memang, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat neraca dagang akan kembali defisit, tapi ruang surplus berpotensi kian tipis.
Pada Juli, Indonesia masih mencatat surplus perdagangan hanya US$121,9 juta, setelah mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei dan US$450 juta pada Juni.
Risiko ini berpotensi membesar, sebab harga minyak mentah kembali berada di atas US$100/barel. Kenaikan harga komoditas minyak tak cuma meningkatkan biaya impor minyak dan produk energi, tetapi juga berpotensi memperlebar defisit perdagangan migas. Hingga Juli, neraca migas Indonesia sudah mencatat defisit US$18,75 miliar, sementara surplus non-migas US$22,45 miliar.
Tekanan dari harga minyak juga menghidupkan kembali alarm kekhawatiran soal fiskal. Hingga Agustus, pemerintah melaporkan bahwa pendapatan negara mencapai Rp2.055,6 triliun, atau 65% dari target. Sedangkan belanja sebesar Rp2.295 triliun. Sehingga, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Selain menanti data ekonomi yang akan rilis pekan ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada pengesahan Rancangan APBN (RAPBN) hari ini. Tahun depan, defisit APBN ditargetkan tetap berada di kisaran Rp671,2 triliun atau setara dengan 2,4% dari PDB.
Namun, di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar yang kian persisten, pemerintah tidak berencana mengubah asumsi dasar kurs dan ditetapkan Rp17.500/US$.
Hari ini, rupiah diperkirakan akan menguji area Rp17.950-18.050/US$, seiring tekanan eksternal semakin persisten dan data ekonomi yang belum sepenuhnya mendukung.
(riset/aji)




























