Relatif Kecil
Sutopo mencatat penurunan produksi NPI sekitar 100.000 mt masih relatif kecil dibandingkan dengan kapasitas terpasang smelter nikel di IMIP yang mencapai sekitar 4,2 juta mt per tahun atau sekitar 350.000 mt per bulan.
Dia juga mencatat sejumlah smelter di kawasan IMIP menurunkan tingkat produksi pada sejumlah lini smelter-nya menjadi sekitar 30%—40% dari kapasitas terpasang.
“Secara arah, ya [kondisi tersebut membuat] ada tekanan pengetatan jangka pendek, terutama untuk NPI kadar tinggi yang jadi bahan baku baja nirkarat,” tegas Sutopo.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor NPI disebut-sebut masuk ke dalam kode HS 72026000 (ferro nickel) yang sepanjang 2025 mencapai 11,56 juta mt.
Sementara itu, ekspor yang tercatat dalam kode HS 72015000 (alloy pig iron; spiegeleisen), sepanjang 2025 mencapai 191.740 mt.
Pada tahun lalu, ekspor NPI yang tercatat dalam kode HS 72026000 dari pelabuhan Morowali mencapai 1,22 juta mt, dengan negara tujuan ekspor terbesar China.
Ekspor dari pelabuhan Morowali yang tercatat dalam kode HS 72015000 mencapai 13.864 mt dengan tujuan ekspor terbesar China.
Sekadar informasi, BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, menilai langkah Indonesia memangkas produksi bijih dan permasalahan terkait dengan bahan baku smelter hanya dapat mendorong pengurangan tipis dari kelebihan pasok logam nikel dunia.
BMI meramal surplus nikel dunia pada tahun ini susut menjadi sekitar 154.000 mt dari besaran tahun lalu yang diprediksi sebesar 241.000 mt, meskipun Indonesia telah memangkas kuota produksi bijih dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
“Meskipun pasar masih berada dalam kondisi surplus, kelebihan pasokan yang lebih kecil tersebut diperkirakan membantu menjaga harga tetap berada di atas level 2025, meskipun surplus pasokan yang masih berlanjut akan membatasi potensi kenaikan harga,” kata tim peneliti BMI dalam risetnya medio Juli.
Di sisi lain, The International Nickel Study Group (INSG) merevisi proyeksi surplus pasokan nikel dari sekitar 261.000 mt menjadi defisit sekitar 32.000 mt pada April 2026; dengan produksi sekitar 3,72 juta mt dan permintaan sebesar 3,75 juta mt.
Sebelumnya, PT IMIP mengonfirmasi sejumlah smelter nikel di kawasan industrinya mengalami penurunan produksi, termasuk fasilitas berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) yang memproduksi besi kasar nikel atau NPI.
Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menyatakan penurunan produksi terjadi gegara fenomena El Niño menyebabkan penyusutan debit air sungai di sekitar sentra nikel IMIP.
Dia tidak menampik PT IMIP selaku pengelola kawasan bersama sejumlah tenant memang tengah melakukan penyesuaian target produksi dan mengupayakan sejumlah alternatif sumber pasokan air cadangan guna meminimalkan dampak.
“Kondisi inilah yang memengaruhi beberapa smelter di Kawasan IMIP mengalami penurunan termasuk pada produksi NPI. Namun, mengenai jumlah penurunannya, kami belum mendapatkan angka pasti dari para tenant yang beroperasi di kawasan PT IMIP,” kata Deddy kepada Bloomberg Technoz, Selasa (22/9/2026).
Dia menjelaskan sumber daya air menjadi salah satu penopang operasional smelter RKEF dan high pressure acid leach (HPAL), pabrik produksi kokas, serta pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menyuplai energi untuk smelter.
Dedy menambahkan, dalam proses produksi NPI, air digunakan untuk pendinginan komponen tungku listrik, pencetakan slag, serta sistem pendukung PLTU.
Dalam kesempatan sebelumnya, Dedy mengamini smelter di kawasan PT IMIP tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.
Dedy tidak menampik fenomena El Niño mengakibatkan terjadinya kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah hingga memengaruhi operasional smelter nikel yang menggunakan air dalam proses produksinya.
“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).
(wdh)






























