Logo Bloomberg Technoz

Obligasi Inggris tenor 10 tahun naik 5,6 bps ke 5,42%, Belanda naik 4,7 bps ke 3,72%, Perancis naik 7,8 bps ke 4,76%, dan Jerman naik 4,1 bps ke 3,64%. Di kawasan Asia, obligasi Jepang naik 1,2 bps ke 3,07%.

Sedangkan, negara lainnya, terutama di Asia, relatif stabil setelah mengalami kenaikan kemarin. Seperti Malaysia dan Korea Selatan yang masing-masing berada di 3,93% dan 4,51% untuk tenor acuan. Begitu juga pasar obligasi China masih stabil dengan yield berada di 1,67%. 

Namun, tekanan terhadap obligasi bermata uang dolar AS masih berlanjut. Obligasi pemerintah Turki, misalnya, meroket 14,3 bps ke 7,85%, lalu Qatar naik 10,4 bps ke 5,68%, dan Brazil melesat 12 bps ke 6,7%. Sedangkan, kenaikan yield obligasi dolar AS Indonesia relatif lebih terbatas 1,1 bps ke 6,15%. 

Tekanan di pasar obligasi turut memperburuk kondisi pasar valuta. Baht Thailand melemah 0,11%, bersama won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yen Jepang. Sedangkan yuan offshore dan dolar Hong Kong menguat meski sangat terbatas. 

Mata uang Asia. (Bloomberg)

Dari sisi domestik, tekanan bagi rupiah juga datang dari kekhawatiran inflasi yang diperkirakan meninggi, meski masih berada dalam rentang target Bank Indonesia. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi September Indonesia akan berada di kisaran 3,3% yoy. 

Selain itu, anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan tekanan jual di pasar obligasi domestik yang terjadi kemarin turut memperparah posisi rupiah. Di pasar saham, aksi jual terjadi kala otoritas bursa membuka batas bawah harga saham dari Rp50/lembar hingga bisa menjadi Rp1/lembar.

Kemarin, investor asing melepas kepemilikan saham domestik sebesar US$62,8 juta secara harian. Bahkan sejak awal bulan, arus keluar modal asing di pasar saham tercatat US$440,8 juta, setara dengan Rp7,92 triliun dengan kurs JISDOR Rp17.965/US$. 

Di sisi lain pasar juga tengah diliputi kekhawatiran terkait prospek neraca perdagangan yang belum kunjung cerah. Konsensus Bloomberg memperkirakan kinerja impor Agustus tumbuh 27,8% secara tahunan, lebih tinggi dari pertumbuhan 27,02% pada Juli. Sementara pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat tajam menjadi 2,5% dari 6,05%.

Bahkan, data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan adanya pelemahan ekspor minyak sawit, turun menjadi 3,188 juta ton pada Juli dari 3,275 juta ton bulan sebelumnya. Padahal, secara produksi minyak sawit justru meningkat menjadi 5,37 juta ton dari 5,27 juta ton pada Juni. 

Pelemahan ekspor komoditas unggulan yang menjadi sumber devisa penting menjadi barometer kualitas pertumbuhan ekspor, bukan sekadar berapa capaian angka surplus atau defisit. 

Kekhawatiran inflasi dan ekspektasi melambatnya kinerja ekspor menciptakan lingkungan yang kurang bersahabat bagi rupiah. Hari ini, rupiah di pasar spot diperkirakan akan bergerak menuju Rp18.000/US$, setelah kemarin sempat ditutup melemah 0,46% ke Rp17.975/US$. 

Analisis Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Selasa 29 September 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih berisiko melanjutkan depresiasi melemah hari ini. Cermati support terdekat di level Rp18.000/US$ dengan target pelemahan kedua berpeluang tertahan di Rp18.050/US$.

Apabila menembus kedua support tersebut, maka mata uang Tanah Air bisa melemah lebih lanjut hingga menuju level Rp18.100/US$ sebagai target paling pesimistis.

Namun jika nilai tukar rupiah mampu menguat, maka menarik dicermati area Rp17.910/US$ dan selanjutnya Rp17.850/US$ secara potensial. Target paling optimistis adalah Rp17.800/US$.

(riset/aji)

No more pages