Adapun harga minyak Brent melesat di atas US$107 per barel setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak usulan terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Hal ini menimbulkan kecemasan pasar terhadap pemulihan distribusi minyak melalui jalur perairan tersebut dapat kembali tertunda.
Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,46% di level Rp17.975/US$ pada perdagangan pasar spot, berdasarkan data Bloomberg, sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia lainnya. Pelemahan ini antara lain disebabkan oleh naiknya indeks dolar AS, arus keluar dana asing, serta dipicu oleh kegelisahan tensi geopolitik dan data ekonomi.
“Secara teknikal, indikator MACD dan Stochastic RSI mengindikasikan masih ada potensi pelemahan IHSG lebih lanjut setelah ditutup di bawah support 6.200,” terang Phintraco dalam catatan terbarunya menyoal penyebab IHSG melemah.
Diprediksi, lanjut dalam catatan yang sama, IHSG akan menguji level support berikutnya di 6.000–6.100.
Terlebih lagi sejumlah saham menjadi pemberat IHSG sepanjang perdagangan hari ini, termasuk sejumlah saham big caps, yaitu saham GOTO, saham AMMN, hingga saham BYAN.
Turun dalamnya IHSG yang begitu signifikan merupakan efek secara langsung dari terpelesetnya sejumlah saham big caps. Berikut di antaranya berdasarkan data Bloomberg, Senin (28/9/2026).
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO ) membebani 12,9 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membebani 8,03 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membebani 5,97 poin
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membebani 4,92 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) membebani 4,43 poin
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membebani 4,04 poin
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membebani 3,7 poin
- PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) membebani 3,1 poin
- PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) membebani 2,51 poin
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membebani 2,45 poin
Ambrolnya IHSG hari ini turut tergencet isu risiko gangguan pasokan bahan energi dan fundamental ekonomi AS yang kuat telah meningkatkan kekhawatiran akan inflasi serta mendorong para pelaku pasar untuk mengantisipasi sikap kebijakan moneter yang lebih tegas (hawkish dari Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sementara kenaikan berkelanjutan pada imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury) bertenor panjang turut menopang nilai tukar USD.
“Para pelaku pasar kini mengantisipasi 68% peluang bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga untuk kedua kali di bulan Oktober nanti, dengan pengetatan sekitar 90 basis poin telah diperhitungkan hingga akhir tahun depan,” papar Phillip Sekuritas Indonesia.
(fad/wep)






























