Logo Bloomberg Technoz

Lucia mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying karena oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal maupun untuk pencegahan tanpa penilaian medis.

Sebagian besar kasus influenza tanpa tanda bahaya dapat ditangani dengan istirahat cukup dan menjaga asupan cairan.

Oseltamivir terutama diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, khususnya bagi pasien influenza dengan kondisi berat, pasien yang dirawat di rumah sakit, serta kelompok berisiko mengalami komplikasi, seperti anak berusia di bawah dua tahun, lansia di atas 65 tahun, ibu hamil, dan pasien dengan penyakit penyerta.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan pemerintah telah menerjunkan tim untuk memantau kondisi rumah sakit, termasuk kemungkinan peningkatan jumlah pasien akibat influenza.

Andi mencontohkan pemantauan langsung yang dilakukan di Rumah Sakit Bandung Kiwari dan Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Berdasarkan hasil pemantauan di instalasi gawat darurat (IGD), jumlah pasien yang datang masih cenderung sama dengan hari-hari sebelumnya.

"Kalau IGD memang biasanya penuh pasiennya, tetapi apakah ini disebabkan oleh influenza, berdasarkan pantauan secara langsung itu masih sekitar 10% daripada total yang masuk di IGD dan cenderung masih sama dengan hari-hari sebelumnya," ujar Andi.

Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan oseltamivir tanpa resep dokter, memakai obat milik orang lain, atau mengubah dosis dan durasi pengobatan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Penggunaan antivirus yang tidak sesuai indikasi medis berisiko memicu resistansi virus terhadap obat.

Pemerintah mengimbau masyarakat mengakses informasi dari sumber resmi, seperti Kemenkes, dinas kesehatan, rumah sakit, dan puskesmas. Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala berat atau kondisi yang memburuk, terutama jika termasuk kelompok berisiko.

(lav)

No more pages