Logo Bloomberg Technoz

Untuk merespons kondisi tersebut, BI akan menggunakan bauran kebijakan yang adaptif dan terintegrasi. Kebijakan moneter akan lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas, sementara kebijakan lainnya digunakan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

"Tentunya juga yang akan kami tekankan ke depan adalah bahwa kebijakan yang kita lakukan semua itu akan diarahkan untuk mendapatkan hasil yang impactful dan efektif dan juga tentunya akan disinergikan dan diintegrasikan juga dengan kebijakan dari otoritas lainnya," pungkasnya.

Prospek Ekonomi Global 'Gloomy'

Di sisi lain, Destry menambahkan, prospek ekonomi global pada 2026 memang masih relatif gloomy atau suram. Namun, BI memperkirakan kondisi global akan membaik pada 2027 dibandingkan 2026.

Bahkan dalam proyeksi terbaru bank sentral, pertumbuhan ekonomi global 2026 diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3%, sementara inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,6%. 

Dengan demikian, kondisi tersebut mendorong kebijakan moneter global menjadi lebih ketat.

Tekanan, kata Destry juga datang dari kenaikan harga minyak dunia. Ia menyebut harga minyak pada 24 September 2026 yang mencapai US$125,53 per barel, jauh di atas rata-rata Agustus 2026 yang berada di kisaran US$90,88 per barel.

Sebagai catatan, rupiah mulai mendekati Rp18.000/US$ dalam perdagangan Senin (28/9/2026), di tengah tekanan yang melanda pasar keuangan domestik dan tekanan jual di pasar obligasi global.  

Data Bloomberg menunjukkan rupiah melemah 0,46% ke posisi Rp17.975/US$. Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) rupiah melemah 0,24% ke Rp17.997/US$.

Pelemahan rupiah dipicu oleh anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan tekanan jual di pasar obligasi domestik. Di pasar saham, aksi jual terjadi kala otoritas bursa membuka batas bawah harga saham dari Rp50/lembar hingga bisa menjadi Rp1/lembar.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari pasar surat utang, menyusul kenaikan yield US Treasury. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun meningkat 4 basis poin (bps) ke 5,2%, sedangkan yield tenor 2 tahun naik 5 bps menjadi 4,9%.

(lav)

No more pages